Halaman

TRANSLATE

Tampilkan postingan dengan label BLACK-WHITE FEATHERS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLACK-WHITE FEATHERS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Desember 2010

BLACK-WHITE FEATHERS - REAL ADENTITY PART 5 (JYUU AND KARIN)

-Flashback-

Ditengah acara makan malam, Ryuuka tiba-tiba mengatakan keinginannya menikah dengan Hikaru. Merasa tidak senang dengan pernyataan yang dilontarkan Ryuuka, Kaoru menggebrak meja dan membawa Ryuuka keluar untuk berbicara berdua saja dengannya. Ada dua alasan yang menurut Kaoru bisa menjadi pertimbangan agar Ryuuka tidak menikah dengan Hikaru.

Ryuuka mengepalkan kedua tangannya. Kebenciannya semakin menjadi pada Kaoru. Sementara Kaoru dengan tenang berjalan mendekatinya. Tatapan tajam yang tadi ia tunjukan berubah menjadi tatapan penuh arti.
“Ada dua alasan kenapa kau tidak boleh menikah dengan Hikaru,” Kaoru memegang kedua tangan Ryuuka, “Pertama, kau mempunyai misi bersama kami untuk menutup portal penghubung antara dunia manusia dengan dunia kami.”
“Tapi, itu ‘kan masih belum bisa dilakukan jika Bulu Putih itu belum kembali. Masih ada kesempatan untukku hidup bersama Hikaru. Tidak masalahkan?!!”
“Tentu saja akan menjadi masalah!!” Kaoru meninggikan nada suaranya, “Karena setelah misi berakhir, kau akan kembali pada Minami dan menghilang. Ingatan mengenai semua hal tentang dirimu juga barang-barang yang berkaitan denganmu juga akan menghilang. Jika itu terjadi, hatimu akan sangat sakit dan akan memberatkan Minami. Aku tak mau hal itu terjadi pada Minami.”
Minami, ternyata dia memang menyukai gadis itu. “Jadi, aku…,”
“Jiwa yang hanya bisa hidup dan mati jika pemilik jiwa itu menginginkannya kembali.”
“Lalu, alasan yang kedua?”
“Itu, itu kukatakan nanti saja.”
Dia…, lagi-lagi seperti itu. Selalu menggantung sebuah pertanyaan besar untukku. Sebenarnya, aku tak ingin menikah dengan Hikaru. Tapi, aku…, sial!! Aku tak bisa mengatakan hal itu. Kaoru apa kau tak menyadari perasaanku yang sesungguhnya??!
Kaoru membalikan badannya dan berjalan meninggalkan Ryuuka. Ryuuka mulai menitikan airmatanya. “Jangan pergi begitu saja dengan meninggalkan sebuah pertanyaan besar untukku.”
Kaoru menghentikan langkahnya, “Apa maksudmu?”
GREB!
Ryuuka memeluk Kaoru dari belakang. Sambil terus menangis Ryuuka semakin erat memeluk Kaoru, “Katakan padaku tentang perasaanmu itu. Aku tak mau terus menunggumu.”
Kau. Ternyata,…, batin Kaoru.
“Aku tidak peduli aku ini jiwa sementara atau jiwa seutuhnya. Walaupun kau selalu menganggapku sebagai orang yang hanya bisa menganggumu saja tapi, aku…, tak bisa menyembunyikan perasaan ini darimu dan ini tak bisa kututupi lagi.” Ryuuka menangis terisak-isak. “Aku sudah pernah mengatakan perasaanku padamu waktu itu. Tapi, kau tidak menanggapinya. Sekarang, aku akan mengatakannya padamu. Aku sangat menyukaimu, Kaoru.”
Tangan Kaoru gemetar mendengar pernyataan cinta Ryuuka. Ia menggeleng pelan dan melepas paksa pelukan Ryuuka. Ia pun berjalan masuk kedalam rumah. Ryuuka terduduk lemas dengan airmata terus mengalir. Sebuah penolakan yang sangat berat baginya.
“Kak Kaoru ternyata menolak kakak. Pasti sakit sekali rasanya,” kata Jyuu miris.
Kaoru, kenapa kau malah menolaknya. Bukankah kau juga…, batin Minami. “Jyuu, aku yakin ada sesuatu dibalik penolakan ini.”
“Apa maksud anda, Miss Minami?” kata Nekomaru.
“Nanti saja kujelaskan, sekarang aku mau melakukan sesuatu.”
“Apa itu??” kata mereka semua bersamaan kecuali Soraoka.
“Tentu saja melanjutkan makan malam, setelah itu aku akan bicara dengan Si Bodoh Kaoru itu.”
Yang lainnya pun ikut melanjutkan makan malam mereka yang tertunda sedang Soraoka sudah selesai dan pergi meninggalkan ruang makan. Ia berjalan ke arah halaman belakang. Ryuuka masih terisak sedih dan Soraoka sudah berdiri disampingnya. Ia pun duduk disamping gadis itu.
“Miss Amatsuki tak perlu menangis untuk hal bodoh seperti ini,” kata Soraoka dingin.
Ryuuka melirik kearah pemuda itu, “Kau tak mengerti apa-apa!!”
“Kehilangan seseorang yang dicintai memang berat tapi jika anda yang menghilang dari orang yang mencintai anda bagaimana?” Soraoka menatap sinis Ryuuka, “Berhentilah mementingkan perasaan anda sendiri tapi, pikirkan juga perasaan orang lain.”
“Apa maksudmu?!”
“Anda masih belum mengerti juga? Sir Kaoru juga sebenarnya mencintai anda tapi, beliau tahu kalau perasaannya diteruskan masalah ini akan semakin pelik. Maka dari itu, beliau menolak anda atas dasar misi bukan atas dasar benci pada anda.”
“Kau bermaksud membelanya, kan?!!”
“Tidak, saya tidak membela siapapun disini. Jika, saya menjadi pihak luar, maksud saya Kurogashi Hikaru, saya pasti akan menjadi pihak yang paling tidak menguntungkan disini. Saya menikah dengan anda dan setelah itu anda berhasil menyelesaikan misi lalu tiba saatnya anda untuk menghilang dan saya pun tidak mengingat apa pun tentang anda. Dan yang tertinggal hanya kesendirian dan kesepian pada diri saya.” Ryuuka menunduk kesal, “Selanjutnya, saya akan merasa hampa dan walaupun ingatan tentang anda sudah dihapus tetap saja meninggalkan suatu perasaan rindu tanpa sebab. Lalu, Miss Minami takkan pernah bisa tenang hatinya jika anda masih belum bisa melupakan urusan duniawi ini.”
“Apa kau sudah selesai, Soraoka?”
“Ya.”
“Kau sangat…,”
DAKH!
Soraoka memukul tengkuk leher Ryuuka sampai pingsan. Ia pun menggendong dan membawanya masuk. Soraoka membaringkannya diatas ranjang. Jyuu tak mengerti kenapa Soraoka bisa berkata seperti itu pada kakaknya. Walau tak begitu terlihat sebenarnya Soraoka sangat memperhatikan mereka semua dan peduli pada yang lain.
Soraoka memakai sepatunya dan bersiap untuk pulang. Minami sudah menunggunya didepan pintu. Pemuda itu sudah bisa membaca pikiran gadis itu. Sudah biasa baginya untuk membaca pikiran orang lain.
“Miss Minami tak usah begitu memikirkan hal ini.”
“Jangan bicara seperti itu. Aku tak mau kau terlalu keras pada Ryuuka.”
“Wanita itu…, sudahlah, aku tak mau membahas ini lagi. Aku harus segera pulang. Selamat malam.”
Soraoka langsung menghilang ditelan angin hitam. Minami terkejut melihat angin hitam Soraoka. Key, dia memang seperti Kaoru, batin Minami.

SMA Mizuno, Tokyo, Jepang.
Soraoka dan Jyuu sedang asyik duduk sambil mengobrol di kelas. Pelajaran belum dimulai dan murid-murid lainnya pun sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing.
“Sudah kuduga akhirnya seperti ini,” kata Soroka.
Jyuu mengerutkan dahinya, “Memangnya berapa persentasinya?”
“99,8%. Bukankah itu angka yang mendekati sempurna?!”
“Ya, sepertinya kau…,” Jyuu menghentikan ucapannya dan menutupi wajahnya dengan sebuah buku.
Soraoka melirik kearah pintu masuk. Rupannya Karin sudah datang dan duduk dikursinya. Tanpa melihat kearah Jyuu dan Soraoka ia langsung membuka buku dan pura-pura membacanya.
Wajahnya terlihat agak merah dan sikapnya jadi kaku. Soraoka pun mengambil note-nya dan mulai menganalisa segala kemungkinan dan jumlah persentasi keberhasilan hubungan Jyuu dan Karin. Terkesan seperti kegiatan yang bodoh tapi ia memang senang melakukan hal seperti itu. Aneh.
Selesai pelajaran terakhir sekolah pun usai. Soraoka mengajak Jyuu untuk pulang bersama tapi Jyuu menolak dan menyuruhnya untuk pulang duluan. Karin sengaja pulang telat dan menunggu sampai sekolah benar-benar kosong. Ia tak mau sampai bertemu Jyuu. Rasanya ia jadi segan pada lelaki itu.
Tetes air hujan mulai membasahi jalanan. Sialnya bagi Karin, ia tak membawa payung. Apalagi di sekolah sudah tidak ada lagi siswa. Dia menunggu didepan pintu keluar sekolah. Ia melihat arlojinya, sudah pukul empat lewat.
“Ini payung untukmu.” Sebuah suara yang tak asing ditelinga Karin.
“Jyuu!!”
Jyuu tersenyum hangat, “Mau pulang bersamaku?”
Karin mengangguk tanda mengiyakan ajakan Jyuu. Mereka pulang bersama dengan payung masing-masing. Dalam perjalanan pulang mereka tak bicara sepatah kata pun. Walau ingin tapi keduanya sama-sama malu untuk memulai pembicaran.
“Ka, Karin,” kata Jyuu gugup.
“Ya?”
“Umm, hati-hati dengan langkahmu. Disini banyak kubangan airnya, jangan sampai terjatuh.”
“I, iya.”
Baru saja dibicarakan Karin langsung terjatuh kedalam kubangan air.
“Kyaa~!!”
“Karin, kau tidak…,”
Jyuu langsung memalingkan wajahnya. Ia tak mau melihat Karin yang seperti itu. Tentu saja Karin langsung marah karena sikap Jyuu yang tiba-tiba aneh begitu.
“Kenapa kau ini, Jyuu?!”
“Aku tak mau melihatmu seperti itu.”
“Apa maksudmu?”
“Lihat seragammu dan tutup kakimu.”
Badan Karin yang basah kuyup dan seragamnya yang berwarna putih jadi transparan sehingga pakaian dalamnya terlihat. Ditambah posisi kaki Karin yang terbuka keluar, lengkap sudah pemandangan surga milik Karin.
DUAKH!
“Kau melihatnya, yah?!” Sebuah pounch attack Karin mendarat dikepala Jyuu, “Dasar mesum!!”
“Aku tak melihatnya, sungguh. Tapi, tadi lihat cuma sedikit.”
“Tetap saja kau melihatnya walau cuma sedikit.”
Jyuu merendahkan badannya dan membuka almamater sekolahnya tanpa melihat kearah Karin, “Kau pakai almamater-ku saja dan aku akan menggendongmu sampai rumah.”
“Tapi,”
“Sudahlah, kau pasti malu jika seragammu basah, kan?”
“Terimakasih, Jyuu.”
Jyuu menggendong Karin dibelakang punggungnya. Disepanjang jalan Karin tak bisa menahan perasaannya. Lagi-lagi harum tubuh Jyuu membuatnya jatuh kepayang. Hangatnya punggung Jyuu membuat Karin pelan-pelan menutup matanya. Ia pun tertidur.
Sesampainya dirumah Karin, Jyuu memberanikan untuk melihat wajah gadis itu. “Hmm, Putri Tidur, aku akan membangunkanmu dari tidurmu.”
Walau samar-samar Karin dapat mendengar suara Jyuu. Sebenarnya, Karin sudah bangun sejak lima menit yang lalu tapi, ia ingin seperti ini untuk sementara waktu.
“Hey, bangun dasar wanita ular derik.”
Soraoka menjitak kepala Karin dengan keras. Jelas saja Karin langsung marah dan turun dari gendongan Jyuu. Payah!! Kenapa Bandar Teh ini selalu mengacaukan suasana romantisku dengan Jyuu, pikir Karin.

Kediaman Amatsuki, pukul 19.15.
Hikaru sedang bercakap-cakap dengan ibu Ryuuka. Mereka terlihat sangat akrab. Sumika sudah mengerti kedatangan pria itu. Sebuah suguhan kecil dan segelas kopi panas sudah terhidang didepan wajah Hikaru.
Ryuuka berjalan menuruni tangga. Minami memperhatikannya dari balik pintu kamarnya. Ia tak mau mencegah gadis itu. Minami percaya penuh pada Ryuuka dan keputusannya. Sementara Kaoru lebih memilih untuk berdiam diri dihalaman belakang. Rumput-rumput masih basah karena hujan sore hari tadi.
“Jadi, kau benar-benar mau menikah denganku, Ryuuka?” tanya Hikaru.
“Ya, aku mau.”
“Baguslah kalau begitu.” Hikaru menatap Sumika senang, “Bibi Sumika dengar sendiri bukan, Ryuuka mau menikah denganku.”
“Syukurlah, Hikaru. Akhirnya, Ryuuka bisa membalas perasaanmu.”
“Ya.” Tangan Hikaru mendekap pundak Ryuuka. “Setelah menikah nanti, aku mau kita mempunyai anak yang banyak. Terciptalah keluarga besar Kurogashi.”
Wajah Ryuuka terlihat datar. Sumika jadi khawatir pada putrinya, ia tahu kalau Ryuuka memaksakan dirinya sendiri. “Ibu harap kau bahagia dengan Hikaru.”
“Ya.”
Setelah Hikaru mendapatkan jawaban yan ia tunggu-tunggu, akhirnya, hatinya bisa tenang juga. Ia pun berpamitan untuk pulang. Ryuuka mengantarnya sampai depan pagar depan rumahnya. Ia pun berjalan kearah halaman belakang untuk menemui Kaoru.
Jyuu melihat wajah ibunya. Wajah Sumika terlihat tidak puas dan Jyuu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kakaknya ternyata lebih memilih Hikaru dan akan memulai menjalani kehidupan palsunya.
Soraoka yang berada disampingnya langsung membisikan sesuatu ditelinganya. Sebuah senyum tipis mengembang diwajah Jyuu.
“Apa itu benar?” kata Jyuu.
“Ya, aku sudah membaca isi hati Miss Amatsuki. Aku tak menyangka kalau beliau bisa melakukan hal ini.”
“Lalu, bagaimana dengan Kak Hikaru?”
“Pria itu harus menerima yang seharusnya ia terima.”
“Sora-kun, kau menggunakan Mind Control??!”
“Tidak, kalau kau ingin bukti lihat saja kehalaman belakang.”
Jyuu berjalan kehalaman belakang bersama Soraoka. Dilihatnya Ryuuka dan Kaoru duduk saling berjauhan. Sepertinya mereka sedang berbicara hal yang serius.
“Aku sudah mengatakannya pada Hikaru.”
“Kau sudah puas?!”
“Belum, aku ingin kau katakan perasaanmu yang sesungguhnya dari mulutmu bukan tindakan melarikan diri seperti kemarin lusa.”
Kaoru menundukan kepalanya. Tangannya gemetar dan lidahnya menjadi kelu. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi gadis ini. Ryuuka telah memantapkan hatinya.
Kaoru tak bisa mengatakan persaannya yang sebenarnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membunuh perasaan ini tapi, ia tak sanggup untuk melakukan hal itu.
“Apa kau mencintaiku, Kaoru? Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak, itu saja.”
Akhirnya, Kaoru memberanikan diri untuk membalikan tubuhnya dan memeluk Ryuuka. “Ryuuka aku…,”
Untuk kedua kalinya Kaoru melakukan hal itu pada Ryuuka. Jyuu hanya bisa menghela napas. Entah karena lega atau kesal. Soraoka yang melihat hanya bisa berkomentar pedas pada Jyuu. “Ternyata, orang dewasa lebih pandai melakukan hal itu daripada kau dan Karin.”
Soraoka, kau diam-diam menghanyutkan. Ternyata, kau mengerti juga pada hal seperti ini, batin Jyuu.
Kaoru melepaskan pelukannya. “Itulah jawabanku dan itu alasan keduaku kenapa kau tak boleh menikah dengan Hikaru.” Kaoru memegang erat kedua tangan gadis itu, “Jangan pergi. Aku mohon.”
“Kaoru, aku, aku…,”
BUGH!
Kaoru jatuh diatas lantai kayu dan diatasnya Ryuuka sambil menangis bahagia. Detak jantung Kaoru sangat terdengar ditelinga Ryuuka. Jyuu dan Soraoka tak bisa berkata apa-apa.
“Giliranmu kapan, Jyuu?”
“Ah,euh, itu,…,”
Jyuu tak bisa menjawab pertanyaan Soraoka. Ia pun bergegas masuk dan meninggalkan kakaknya dan Kaoru berdua saja. Jyuu mengambil jaketnya dan pergi keluar dengan wajah serius.
Ia berlari dengan kencang. Ia tak mau bernasib sama dengan Kak Hikaru. Kalau tidak cepat-cepat ia katakan mungkin Karin juga akan menjadi milik orang lain. Jyuu sudah berdiri didepan rumah Karin.
Dengan napas terengah-engah, ia mencoba untuk berteriak kearah jendela kamar Karin. “Karin~!! Karin~!”
Sontak Karin langsung kaget mendengarnya. Ia membuka jendela kamarnya, dilihatnya Jyuu berdiri didepan rumahnya dengan napas terengah-engah dan keringat mengucur dari keningnya.
“Karin, ada yang ingin kukatakan padamu. Cepat turun dan temui aku.”
Penghuni rumah Hoshikaze yang lain langsung berhambur keluar rumah. Ibu Karin, Ayano, menanyakan apa yang terjadi pada Jyuu. Tapi, pemuda itu hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman.
Karin sudah berdiri didepan pintu dan ia berjalan menghampiri Jyuu. Gadis itu sudah berdiri didepan Jyuu. “Apa yang ingin kau katakan padaku, Jyuu?”
“Aishi…,” Karin menempelkan jarinya dibibir Jyuu.
“Diam, Jyuu-kun. Jyuu, perasaanmu…, apa segampang itu mengungkapkanya dengan menggunakan kata yang dipakai oleh berjuta-juta orang itu?”
Karin merogoh saku celananya dan ia mengeluarkan sebuah kembang gula –permen-. “Ambil kembang gula ini dariku dengan mulutmu lalu, katakan perasaanmu padaku.” Ia pun membukanya dan meletakan kembang gula disela kedua bibirnya.
Karin…, kau lebih agresif dari yang kuduga, batin Jyuu. Tanpa ragu Jyuu langsung mengadu bibirnya dengan bibir Karin. Ayah dan Ibu Karin hanya bisa tertawa kecil. Berani juga putri mereka melakukan hal itu didepan mereka. Anak jaman sekarang memang lebih berani
“Harin, aihiheru.”*
“Aihiheru, Hihu.”**
Akhirnya, Jyuu bisa mengatakan perasaannya pada Karin dan gadis itu pun mengakhiri penantiannya. Jyuu mendekap erat Karin. Bintang malam ini bersinar dengan terang seakan bahagia melihat dua pasangan baru yang sedang bermandikan cinta.

*Karin, aishiteru: aku menyukaimu, Karin.
*¬Aishiteru mo, Jyuu: aku juga menyukaimu, Jyuu






---------------------------------------------by : Xiona E. Ruu Kawakusa (希望を失った男)
READ MORE BLACK-WHITE FEATHERS - REAL ADENTITY PART 5 (JYUU AND KARIN)

Jumat, 27 November 2009

BLACK-WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 4 (MYOHAKU CLAN)

Sabtu ini, Kaoru dan Minami akan pergi ke Roppongi berdua saja. Sedang Jyuu akan bersama Soraoka seharian di kamar Jyuu. Ada tugas sekolah yang harus mereka selesaikan bersama. Ryuuka hanya bisa duduk diam dalam kamarnya.
“Apa aku harus mengikuti perjodohan itu, yah?,” katanya dengan tangan menyanggah dagunya, “Lagipula, usia dua puluh tiga tahun sudah cukup matang untukku menikah.”
Ryuuka menghela napas dan kepalanya benar-benar pusing memikirkan hal ini. Sebenarnya, ia masih memikirkan seseorang yang sudah ia sukai. Walau orang itu bodoh, agak sedikit kekanakan tapi ia seorang yang sangat perhatian. Rasanya sayang juga kalau orang itu jatuh ke tangan orang lain.
Sebuah ketukan pintu mengagetkannya sampai ia terjungkal dari atas kursi. Dengan langkah berat ia membuka pintu kamarnya dan Hikaru sudah berdiri sambil tersenyum.
“Sebenarnya aku ingin menyerahkan ini.” Hikaru menyodorkan sebuah buku pada Ryuuka, “Aku harap kau mau menerimanya.”
“Wah, terimakasih. Aku senang sekali.”
“Ryuuka, ada yang harus kukatakan padamu. Sebenarnya,…”

Kamar Jyuu.
Soraoka meminum teh hitamnya dengan tenang. Tugas mereka sudah selesai dengan sempurna. Untung saja Soraoka membantu Jyuu, berteman dengan anak jenius seperti Soraoka memang menguntungkan.
“Ah, ya! Kejadian dua hari yang lalu, aku melihatnya, loh.” Soraoka kembali menyeruput tehnya.
“Dua hari yang lalu?”
“Sekitar pukul 15.45 di atap sekolah, kau dan Hoshikaze ber…,”
Jyuu langsung menutup mulut Soraoka dengan tangannya. “Jangan dilanjutkan. Aku malu.”
“…, ciuman.”
“Akh~, kenapa malah dilanjutkan.”
Soraoka kembali menyeruput tehnya, “Kenapa kau mau melakukan hal itu pada wanita ular derik seperti dia?”
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja hal itu terjadi. Rasanya aku jadi malu kalau mengingat hal itu.” Jyuu tersipu malu.
“Sebenarnya, bagimu Hosikaze itu bagaimana?”
“Dia gadis yang ceria, aktif walau kadang menyebalkan sama seperti anak perempuan pada umumnya tapi dia baik. Mungkin karena sejak kecil kami sudah berteman dan kami saling menyayangi jadi kami sangat akrab. Namun, entah sejak kapan rasa sayang ini berubah menjadi cinta. Aku sangat mencintai Karin.”
“Katakan saja perasaanmu padanya.”
“Mana bisa, aku sangat malu mengatakan hal itu.”
“Mau kubantu menggunakan Mind Control?”
“Ah, tidak perlu. Umm, Sora-kun sendiri apa tidak punya seseorang istimewa?”
“Ya, ada.”
“Siapa? Siapa?” Jyuu jadi tak sabar mendengar nama gadis yang dianggap Soraoka istimewa.
“Sir Kaoru.”
GUBRAK!
“Bukan itu yang kumaksud. Tapi, orang yang sangat penting dalam hidupmu dan kau tak mau sampai kehilangan dia!”
“Begitu. Kalau itu…,”
“Ya….????”
“Kau sendiri, Jyuu. Aku sangat menyayangimu dan aku tak mau kehilanganmu.”
BRAK! GUBRAK!!
“Anak perempuan!! Masa kau tidak punya anak perempuan yang disukai?!”
“Umm, tidak ada.”
“Hhh~, kau ini. Ya, sudahlah. Kita ganti topik lain,” Jyuu mengibas-ngibaskan tangannya, “Umm, tadi kau bilang Kak Kaoru itu orang yang istimewa bagimu. Apa alasanya?”
“Itu…,”
Soraoka pun mulai bercerita kepada Jyuu. Ingatannya kembali ke masa silam dua ratus tahun lalu. Waktu itu usia Soraoka seribu empat ratus tahun dan Kaoru berusia dua ribu tiga ratus tahun.
Karena tidak sengaja melewati portal penghubung antara dunia manusia dengan Ellysium, ia terhempas ke dunia manusia dan berubah menjadi anak usia lima tahun. Seketika ingatannya pun menghilang sebagai seorang Angelicus. Kemudian ia diasuh oleh seorang janda muda dan diberi nama Soraoka.
Selama empat tahun ia dirawat oleh janda muda bernama Akio dan diberi kasih sayang serta pendidikan yang layak. Selama empat tahun itu pula Kaoru terus mengawasinya dan berkomunikasi secara rahasia dengan Akio.
Hingga pada suatu hari,
“Kau diam saja disini saja, yah,” ujar Akio pada Soraoka. Ia menyuruhnya agar bersembunyi didalam sebuah lemari. “Jangan mengeluarkan sebuah suara apapun. Kau ingat baik-baik.”
“Kenapa ibu tidak bersembunyi juga?”
“Ada suatu hal yang harus ibu selesaikan. Jangan mengintip.”
Sambil tersenyum hangat ia menutup pintu lemari itu. Suara langkah kaki beberapa orang terdengar memasuki kamar itu dan wanita itu terlihat sedikit ketakutan.
Beberapa orang dari mereka kemudian merebahkan sayap mereka dan warna sayap mereka memiliki warna yang berbeda, hitam dan putih. Dan satu diantaranya mempunyai sayap hitam dikepalanya.
“Akio, dimana kau sembunyikan anak itu?” tanya seorang pria bersayap hitam dikepalanya.
“Dia sudah dibawa pulang oleh Sir Shirokusa ke Ellysium. Kalian pulang saja.”
“Wajahmu tak terlihat jujur, Akio. Aku tanya sekali lagi, dimana kau sembunyikan anak itu.”
“Aku tidak berbohong!”
“Persetan dengan kau! Sekarang matilah kau! Heya~!”
Ruangan itu pun dipenuhi oleh darah. Akio kalah melawan lima Angelordies dan satu Demonicart. Matanya terbuka lebar. Ia sudah terbujur kaku tak bernyawa. Keadaan menjadi hening sesaat.
Keringat dingin mengucur deras melewati keningnya. Perasaan takut menyergap hatinya dan seluruh tubuhnya mulai gemetar. Ibu, aku takut. Tuhan lindungi aku dan ibuku, batinnya.
Dengan kakinya salah satu dari para Angelordies itu disenggol-senggolkan ke kepala Akio. “Sepertinya dia sudah mati. Bagaimana dengan anak bernama Key itu?”
Pimpinan mereka pun membuka mulutnya, “Geledah seisi rumah ini. Akio pasti menyembunyikannya di salah satu ruangan dalam rumah ini.”
“Baik.”
Mereka pun berpencar untuk mencari Key di seluruh bagian rumah Akio. Rumah ini tak terlalu besar jadi tak butuh waktu lama untuk memeriksa seluruh ruangan yang ada.
DUGH!
Kaki Key menghantam dalam pintu lemari. Karena penasaran, Demonicart itu berjalan mendekati lemari tempat Key bersembunyi. Saking takutnya, Key sampai menangis.
KRIET~.
Wajah tanpa dosa Demonicart ia tunjukan pada anak itu. Key menangis tersedu-sedu dan tubuhnya masih gemetar. “Key? Ayo, kita pulang ke Asphodel,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Pa, paman siapa?”
“Namaku Thorcreamond. Kau mau pulang ‘kan?”
“Bagaimana dengan ibu?”
“Dia sudah meninggal dibunuh oleh Angelicus bernama Shirokusa Kaoru. Maaf, aku tak bisa menyelamatkan ibumu.”
Dengan langkah gontai, Key berjalan keluar dari dalam lemari. Dilihatnya Akio yang sudah terbujur kaku bermandikan darah. Seulas senyum licik tersungging dibibir Thorcreamond. Perlahan ia membuka sarung katana-nya.
SRAT!
Katana itu ia sayatkan ke penggung Key. Darah segar keluar dari luka sayatan katana itu. Key menatap Thorcreamond dengan tatapan tak percaya. “Paman, apa yang paman lakukan?”
“Membunuhmu Myohaku Key. Dengan demikian, Myohaku clan akan benar-benar hancur.”
Key pun roboh dan sudah tak sadarkan diri. Tanpa disadari Thorcreamond, luka di punggung Key perlahan menutup dan darah yang keluar pun perlahan membentuk sebuah tato burung Phoenix.
BATS!
Sayap berwarna putih pun keluar dari punggungnya. Matanya pun langsung terbuka dan ia mulai bangkit. Thorcreamond terlihat sangat terkejut. Ternyata, anak ini juga sama seperti gadis itu, pikir Thorcreamond.
Ia merentangkan tangan kirinya lalu sebuah katana pun muncul dan sudah digenggamnya. Tanpa mengulur waktu ia membuka sarung katananya dan langsung menyerang Thorcreamond. Kedua tubuhnya terbelah terbagi dua dan ia pun berubah menjadi helaian bulu-bulu hitam. Mati tanpa sempat merasa sakit sedikitpun.
Sebuah tekanan cakra yang sangat kuat membuat para Angelordies itu kembali ke ruangan itu. Key membalikan tubuhnya dan seketika itu ia menyerang lima Angelordies. Mereka bernasib sama seperti pemimpinnya. Dari ambang jendela Kaoru melihat Key membunuh para Angelordies dan satu Demonicart itu dengan mudahnya
“Kau sudah puas, Key?” kata Kaoru.
Key menatap tajam Kaoru dan dengan cepat ia menyerang Kaoru. Tapi, Kaoru berhasil menghindar dan memotong sayap sebelah kiri Key. Key mengerang kesakitan dan Kaoru pun melumuri tangannya dengan darah Key. Sebuah tulisan penyegel ia tuliskan di sayap kanan anak itu. Tulisan itu berbunyi, “Seekor Phoenix yang sedang tertidur, apinya takkan bisa membakar apapun. Tetapi, jika seekor Naga yang tertidur, apinya bisa membakar apa saja yang mengganggunya.”
Setelah selesai, perlahan sebuah sayap baru muncul dengan sendirinya. Kemudian sayap itu menghilang dan Key pun tak sadarkan diri. Key pun siuman dan ia sudah pulang kembali ke Ellysium. Kaoru pun memberi tahunya bahwa seluruh keluarganya dibantai oleh lima Angelordies dan satu Demonicart. Myohaku Clan pun akhirnya hancur dan karena Soraoka berada di dunia manusia ia selamat dari pembantaian itu.
Myohaku Clan adalah sebuah klan yang sudah turun-temurun menjaga Bulu Hitam dan pada generasi itu klan mereka hancur oleh para Angelordies. Walau begitu, mereka tak berhasil menemukan itu disembunyikan. Yang mereka dapat hanya kekecewaan yang mendalam dan mereka pun mengejar Soraoka sampai ke dunia manusia.
Sejak kejadian itu, Soraoka berubah menjadi anak yang pendiam dan menutup dirinya untuk bergaul dengan yang lainnya. Tapi, Kaoru selalu menemaniya dan selalu tahu apa yang dirasakan Soraoka. Ia sudah seperti ayah baginya dan juga menjadi sosok yang tak bisa digantikan oleh siapapun. Dan, hanya pada Kaoru saja Soraoka mau mengatakan semua hal yang ia suka, hal yang menarik perhatiannya dan ia sangat terbuka pad pria itu. Ia juga tak mau membuat Kaoru kecewa karenanya.
“Begitu, yah,” kata Jyuu sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Pantas saja waktu itu dia pernah berkata, ‘Sebenarnya, aku bisa saja membunuhmu tapi, ini demi Sir Shirokusa’. Mungkin ia tak mau membuat Kak Kaoru kecewa jika melihatnya membunuhku hanya karena hal sepele.
“Baru kali ini aku bercerita hal ini pada orang lain selain Sir Kaoru. Entah kenapa perasaanku jadi sedikit lega. Terimakasih sudah mau mendengarkan ceritaku.”
“Sora-kun, aku senang kau mulai terbuka pada orang lain. Terimakasih juga kau mau mempercayaiku.”
Senyum hangat Soraoka pun mengembang. Jyuu kaget melihatnya dapat tersenyum seperti itu. Padahal, kalau ia sering tersenyum hangat seperti itu wajahnya jadi terlihat semakin tampan. Soraoka aku ingin melihat ekspresi-ekspresi wajahmu yang lain. Tersenyum dan bukalah hatimu untuk yang lain juga. Sebab, mereka juga ingin melihatmu berwajah ceria dan bahagia. Tidak seperti kau yang sekarang, sangat dingin dan terlihat kesepian.

Kamar Ryuuka,
“Eh? Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu, Hikaru?”
“Bukannya kau dulu pernah bilang akan mengikutiku kemanapun aku pergi.”
“Tapi, itu tiga belas tahun yang lalu dan saat itu kita masih kanak-kanak. Jadi…,”
Hikaru langsung memotong ucapan Ryuuka, “Aku mengerti. Kau benar, itu ‘kan tiga belas tahun yang lalu dan kita masih belum bisa berpikir dewasa. Tapi, aku masih menunggumu sampai tiga hari kedepan.”
Hikaru bangkit dari duduknya dan membalikan tubuhnya. Ryuuka menatap bingung pria itu. Ia tak mengerti kenapa Hikaru bisa berkata seperti itu padanya.
“Hikaru…,”
“Aku harap kau berubah pikiran.”
Hikaru pun pergi meninggalkan Ryuuka dengan hati dipenuhi rasa kesal pada gadis itu. Bodoh benar ia mempercayai janji anak ingusan dan menagih janji itu sekarang. Dasar keledai bodoh aku ini, batin Hikaru.
Waktu menunjukan pukul 18.30, seluruh keluarga baru Amatsuki sedang makan malam. Ditengah heningnya suasana makan malam, Ryuuka tiba-tiba angkat bicara.
“Ibu, aku mau menikah dengan Hikaru.”
Yang lainnya langsung tersedak bersamaan tapi tidak dengan Soroaka. Ia menanggapi dingin pernyataan Ryuuka tadi dan malah melanjutkan makan malamnya.
“Apa kau bilang tadi? Menikah dengan Hikaru?” tanya Minami.
“Apa kakak serius??”
“Miss Amatsuki mau menikah. Hurya~, akhirnya.” Nekomaru girang.
“Kau yakin dengan perkataanmu itu, Ryuuka?” Sumika mengerutkan dahi.
“Ya, aku yakin. Lagipula, jika aku menikah dengannya aku akan pindah ke New York dan menjalankan usaha pastry milik ayah Hikaru,” Ryuuka memaksakan untuk tersenyum, “Jadi, ibu tak usah khawatir.”
BRAK!
Kaoru memukul meja kotatsu. Wajahnya terlihat sangat marah dan tatapannya lebih tajam dari biasannya. “Ryuuka tak boleh menikah dengan Hikaru!!” katanya dengan penuh emosi.
“Memangnya kenapa aku tidak boleh menikah dengan Hikaru?”
Tanpa berkata apapun Kaoru langsung menarik tangan Ryuuka dan menariknya keluar dari dalam kotatsu. Di halaman belakang mereka berdiri saling berhadapan. Sedang yang lain mengintip dari balik pintu.
“Kak Minami, apa mereka akan bertengkar lagi?” tanya Jyuu.
“Entahlah. Tapi, sepertinya yang ini lebih menarik sebelumnya.”
“Kenapa Kak Minami berkata seperti itu.”
“Kau lihat saja nanti.”
Ryuuka mengepalkan kedua tangannya. Kebenciannya semakin menjadi pada Kaoru. Sementara Kaoru dengan tenang berjalan mendekatinya. Tatapan tajam yang tadi ia tunjukan berubah menjadi tatapan penuh arti.
“Ada dua alasan kenapa kau tidak boleh menikah dengan Hikaru,” Kaoru memegang kedua tangan Ryuuka, “Pertama,…”










____________________________________________________________________
by: Amakusa Ryuu
READ MORE BLACK-WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 4 (MYOHAKU CLAN)

BLACK-WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 3 (LIKE A WIND TOUCH YOUR HEART)

Wajah Ryuuka terlihat sangat masam. Padahal, didepannya sudah terhidang banyak hidangan lezat dan siap disantap. Jari-jarinya ia ketukan diatas kotatsu. “Ayo, kita bersulang~ semuanya,” kata Kaoru.
“Hurya~” kata mereka bersamaan.
TANG!
Gelas-gelas pun saling beradu dan mereka pun meminumnya dengan wajah berseri-seri. Segala jenis makanan yang terhidang pun mereka santap dengan lahap. Ryuuka sudah tak tahan lagi, “Kenapa rumahku jadi penampungan seperti ini!?” katanya kesal.
“Miss Amatsuki, nikmati sajalah pesta ini. Ayo, kita bersenang-senang bersama,” kata Nekomaru.
“Ryuuka, mulai sekarang kita adalah keluarga. Jadi, terima kami apa adanya, yah?” kata Minami dengan sedikit segan.
“Nah, semuanya, jangan malu-malu. Ayo, silakan,” tambah Kaoru.
BELETAK!
Pukulan keras Ryuuka mendarat dikepala Kaoru, “Aku ‘kan Tuan Rumah ini! Kenapa jadi kau yang berkata seperti itu!! Huh!” Ryuuka pun pergi meninggalkan ruang makan.
“Ryuuka~”
“Sudahlah, Kak Kaoru. Biarkan saja dia, nanti juga baik sendiri,” kata Jyuu sambil menyantap tempura-nya.
“Umm, ya sudah, nanti aku bicara saja padanya.”
Suasana rumah ini jadi sangat ramai karena Minami, Nekoma dan Nekomaru akan tinggal juga dirumah Ryuuka. Walau tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung mereka. Sudah seperti keluarga besar saja.
Kaoru dan Minami semakin mengakrabkan diri karena mereka belum puas dengan perjumpaan mereka beberapa waktu yang lalu. Jyuu mulai mendekati Soraoka, ia ingin mendekatkan diri dan berteman baik dengannya. Nekomaru dan Nekoma terlihat bermanja-manja diatas pangkuan Sumika. Mereka merubah wujud mereka menjadi dua ekor kucing agar tidak terlalu memakan tempat.
Waktu menunjukan pukul 20.30, mereka sudah selesai melakukan pesta porak. Sumika dan Minami berada di dapur sedang mencuci piring. Soraoka pulang ke rumahnya. Sejak datang ke Bumi ia sudah menjadi anak adopsi keluarga Eniwa. Jyuu, Nekoma dan Nekomaru sedang menonton acara televisi. Kaoru pun pergi ke kamar Ryuuka.
“Fu fu fu,” tawa kecil Minami terdengar jelas oleh Sumika.
“Ada hal lucu yang membuatmu tertawa Minami?” tanya Sumika.
“Tidak, hanya saja…, tidak jadi. Nanti juga Bibi akan tahu sendiri.”
“Begitu, aku jadi tak sabar.”
Sementara itu…,
“Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan, Ryuuka,” kata Kaoru serius.
“Apa?!”
“Apa kau keberatan jika mereka tinggal disini?”
“Ya, tapi, mereka ‘kan satu misi denganku. Jadi, apa boleh buat.”
Kaoru bangkit dari tempatnya duduk, “Aku…, hanya ingin minta maaf saja. Maaf, ini semua memang salahku.”
Ia membungkuk dalam sedang Ryuuka memandangnya simpatik, “Sudahlah, Kaoru. Ini bukan salahmu dan lagipula aku jadi banyak mendapatkan pelajaran dari semua ini.”
“Euh?”
“Kau mengajariku cara berbagi dan dengan dengan sejak kedatangan kalian, aku mulai sedikit belajar dewasa dan terimakasih kau telah menyelamatkanku waktu itu.”
“Menyelematkanmu?”
“Minami bilang kau yang telah menyelamatkanku dan kemarin dia juga menceritakan bahwa kau yang memperlambat penyebaran racun dalam tubuhku.”
“Ah, soal itu. Sebenarnya, Soraoka-lah yang telah menyelamatkanmu. Dia meminjamkan Bulu Hitam-nya padamu. Memang benar aku yang memperlambat penyebaran racun itu dan Minami yang memasukan Bulu Hitam itu kedalam tubuhmu sebagai ganti jantungmu –Bulu Putih-.”
“Bagaimana caranya?”
BLUSH!
Kepiting Rebus! Wajah kaoru langsung berubah merah seperti kepiting rebus. Ia tak mau mengatakan hal itu pada Ryuuka. “Itu rahasia.”
“Kok, begitu, sih?” Ryuuka mencengkeram kerah kaos Kaoru, “Aku ingin tahu, sekarang!”
“I, iya. Nanti, aku ceritakan tapi jangan sekarang, yah.”
“Kalau begitu,…”
BRUAK! BUGH!
Kaoru keluar dari kamar Ryuuka dengan tumpukan benjol dikepalanya. “Kenapa sih, perempuan jaman sekarang hobi sekali memukul laki-laki.”

SMA Mizuno, Tokyo, Jepang.
Sepertinya pendekatan Jyuu tidak sia-sia, ia sudah mulai akrab dengan Soraoka dan mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang anak lelaki itu. Hampir setiap hari mereka selalu bersama-sama, sampai-sampai par fans Soraoka ada juga yang mulai menyukai Jyuu. Dengan wajah yang manis dan sikapnya yang sedikit polos membuat Jyuu digandrungi beberapa anak perempuan. Kepopuleran Soraoka berdampak positif pada dirinya.
“Seperti biasa, yah. Kalian berdua pasti berada disini pada jam istirahat dan seusai sekolah,” kata Karin sambil berjalan menghampri mereka berdua.
“Karin, sedang apa disini?” tanya Jyuu.
“Menemuimu, Jyuu-kun. Lagipula, aku juga sesekali pergi keatap sekolah untuk melihat langit. Langit yang sangat dingin.”
Soraoka menatap dingin gadis itu, “Kau bermaksud menyindirku, Hoshikaze?” kata Soraoka dingin. –dalam bahasa Jepang , Sora berarti langit-. Tatapan matanya sangat tajam dan siapapun yang melihatnya langsung meleleh karena tak tahan melihatnya. Perempuan mana yang takkan takluk jika ditatap dengan tatapan maut seperti itu.
“Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tunjukan jati dirimu yang sebenarnya, Eniwa Soraoka.”
“Apa maksudmu?”
“Tunjukan sayapmu.”
Soraoka tersenyum pahit. Ternyata orang luar seperti dia tahu diriku yang sebenarnya. Apa boleh buat, pikir Soraoka.
BATS!
Sayap Soraoka pun merebah. Senyum diwajah Karin pun mengembang, “Akhirnya, wujud aslimu kau tunjukan juga. Jyuu menjauh darinya, dia hanya memanfaatkanmu saja.”
“Karin, kau tak tahu siapa dia yang sebenarnya,” kata Jyuu.
“Tentu saja aku tahu. Dia makhluk langit yang akan mengancam keberadaan manusia. Dan, kau pasti sudah terkena Mind Control Eniwa”
“Bukan seperti itu…,”
Belum selesai Jyuu menyelesaikan kalimatnya, tangannya sudah ditarik Karin. “Kau diam saja. Aku yang akan menyegel makhluk langit ini.”
Makhluk langit? Bukan seperti itu! Karin, kau tak mengerti, pikir Jyuu.
“Hoshikaze Karin,” Karin menunjuk Soraoka tajam, “Aku akan menyegelmu, Eniwa Soraoka.”
Satu buah gulungan kertas mantra pun Karin keluarkan dari dalam tasnya. Ia sudah bersiap untuk menyegel Soraoka dan ia mempertaruhkan nama baiknya sebagai seorang Miko. Aku takkan kalah dari kakakku, batin Karin.
Soraoka pun membuka sarung katana-nya, ukiran naga pada katana itu terlihat jelas, “Hmf, itu pun kalau bisa.”
10 menit kemudian.
“Lepaskan aku!” bentak Karin.
Kedua tangan dan kedua kakinya diikat Soraoka. Gadis itu tampak sangat kesal sedang Soraoka malah bersikap dingin padanya. Dengan tenang ia meminum teh hijau bersama Jyuu.
“Darimana kalian mendapat dua gelas teh hijau itu,” Karin terbelalak kaget.
“Entahlah, tanya saja pada yang menulis cerita,” kata Jyuu.
“Sudahlah,” kata Soraoka, ”Hoshikaze Karin, kau takkan pernah kulepaskan sebelum kau menjawab beberapa pertanyaanku,” kata Soraoka.
“Ah!~, kenapa harus begitu?”
“Jawab saja atau rahasiamu akan kubocorkan.”
“Memangnya kau tahu apa tentangku?!”
Soroaka langsung memegang pundak Jyuu, “Jyuu, sebenarnya ada yang harus kukatakan padamu. Sebenarnya, Karin itu…,”
“HENTIKAN!!”
“Jadi, bagaimana?” sorot mata Soraoka terlihat mengejek. Jyuu hanya melongo tak mengerti apa maksudnya.
“Ya, baiklah. Apa pertanyaanmu?”
“Sudah sejauh mana kau mengetahui tentang kami dan darimana kau tahu tentang kami?”
“Sebenarnya, aku pernah melihat seorang lelaki berambut merah dan panjang. Dia memiliki sayap dengan dua warna yang berbeda, hitam dan putih. Waktu itu aku melihatnya bertarung dengan lelaki bernama Kaoru. Mereka bertengkar hanya karena memperebutkan Bulu Putih. Lelaki berambut panjang itu terus berbicara tentang Eikyuu no Hi dan Amatsuki Ryuuka, kakakmu Jyuu,” Karin menoleh kearah Jyuu dan melanjutkan kembali ceritanya, “Lalu, ketika aku membebaskan seekor siluman kucing dari segelnya. Laki-laki bernama Kaoru itu datang menemuinya dan memintaku meminjamkan Nekomaru, siluman kucing itu untuk melanjutkan tugasnya. Dia adalah majikannya Nekomaru yang terdahulu. Ketika Nekomaru tersegel dalam batu itu, siapapun yang membebaskannya dari segel akan menjadi majikannya,” papar Karin panjang lebar.
Dia tahu tentang Ryuken dan Sir Kaoru, apa aku harus membunuhnya untuk menutupi ini, batin Soraoka. “Bagaimana kau tahu identitasku yang sebenarnya?”
“Disini, dua hari yang lalu, aku melihatmu bertarung dengan seorang wanita dengan dua sayap hitam dikepalanya. Kau mencoba menyelamatkan Jyuu dari wanita itu.”
Alice juga?! Dia sudah cukup tahu banyak tentang kami. Tak ada pilihan lain, aku harus membunuhnya, pikir Soraoka. “Hanya sebatas itu saja?”
“Ya, apa kau tak mempercayaiku?”
“Umm, kau sudah tahu banyak tentang kami. Aku tak bisa membiarkanmu hidup,” Soraoka menghunuskan katananya, “Selamat tinggal.”
JREB!
TES TES TES.
Darah segar keluar cukup banyak dari dada Jyuu. Ia mencoba melindungi Karin. Soraoka menunjukan ekspresi terkejutnya. Ini kali pertamanya Soraoka menunjukan ekspresi lain wajahnya.
“Aku memang sudah terbiasa dan bisa menerima melihatmu membunuh para Angelordies itu tapi, untuk membunuh manusia, takkan kuijinkan,” kata Jyuu yang mulai sekarat. Jyuu pun akhirnya roboh dan kesadarannya pun hilang.
“Kyaa~, Jyuu-kun!!”
Jyuu?! Akh, Sial, batin Soraoka. Tanpa menunggu lama, Soraoka merebahkan sayapnya dan membawa Jyuu pergi. Sedang Karin malah ditinggalkan sendiri di atap sekolah.

Rumah Sakit Shirohime, Tokyo, Jepang.
Soraoka tertunduk kesal di ruang tunggu rumah sakit. Ia duduk dengan mengepalkan kedua tanganya. Kaoru mengerutkan dahinya, baru kali ini ia melihatnya seperti ini. Apa ini efek dari sebuah pertemanan?
Sejak dulu Soraoka tak pernah merasakan rasa kesal, menyesal atau emosi apapun. Dia hanya memandang sesuatu hal dengan tatapan dingin dan rendah. Ia bisa menganggap sesuatu itu penting jika sesuatu itu menarik perhatiannya dan bisa menghilangkan rasa jenuhnya.
“Key, apa kau baik-baik saja?” tanya Kaoru.
“Aku baik-baik saja. Aku mengkhawatirkan Jyuu,” katanya.
Bisa juga anak ini merasa khawatir. Biasanya, dia tak pernah mengkhawatirkan sesuatu. Minami, Ryuuka, Nekomaru dan Karin pun datang menyusul. Karin bisa datang karena ditolong Nekomaru. Ia menggunakan telepathy untuk menghubunginya.
“Bagaimana keadaan Jyuu?” tanya Karin khawatir.
“Kritis,” jawab Soraoka.
Soraoka menatap tajam kearah Karin. Gadis itu pun membalas pandangan tajam Soraoka. Aliran listrik keluar dari dalam mata mereka dan saling beradu. Sedang yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala.

Dua minggu kemudian.
“Jyuu~, selamat datang kembali di sekolah,” kata Karin senang.
“Eh, iya. Terimakasih, Karin. Aku senang bisa kembali ke sekolah.”
Begitu melihat Soraoka datang bersama Jyuu, Karin langsung menarik tangan Jyuu, “Jyuu itu milikku!”
“Bodoh, Jyuu itu milikku!” kata Soroaka.
Mereka berdua memperebutkan Jyuu dan para fans Soraoka menangis sedih+haru. Ternyata, Pangeran mereka penyuka sesama jenis. Sedangkan, fans Jyuu terlihat sangat marah karena Jyuu berdekat-dekatan dengan Karin.
“Eniwa-sama, ternyata anda penyuka sesama jenis. Aku tak percaya itu,” komentar seorang fans Eniwa-sama.
“Siapa bilang? Aku dan Jyuu, kami bersahabat. Dan aku tak bisa membiarkan dia jatuh kedalam perangkap wanita ular derik ini,” kata Soraoka.
“Siapa yang kau bilang wanita ular derik?! Huh! Dasar, kau sendiri seorang Bandar Teh,” balas Karin.
Soraoka, Karin, kalian seperti anak kecil saja. Aku ‘kan bukan barang yang bisa kalian perebutkan. Aduh~, kalian membuatku pusing saja, batin Jyuu.
Pribadi-pribadi lain Soraoka pun mulai terlihat dan dia sedikit demi sedikit mulai mengerti apa yang selama ini kurang dari dalam dirinya. Kehangatan sebuah persahabatan.
Sepulang sekolah, Jyuu tak bersama Soraoka karena pemuda itu harus menghabiskan waktunya untuk mencari suatu referensi di perpustakaan. Karin dan Jyuu pun seperti biasa tak langsung pulang dan lebih senang berdiam diri di atas atap sekolah.
“Jyuu, maafkan aku, yah? Gara-gara aku kau sampai terluka,” kata Karin memulai pembicaraan.
Jyuu menoleh kearah gadis itu, “Sudah ribuan kali kau meminta maaf padaku. Apa kau tidak bosan mengatakan hal itu terus?”
Karin menggeleng, “Tidak. Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri.”
“Sudahlah, Karin. Aku sudah melupakan hal itu. Aku tak mau melihatmu murung terus seperti itu,” Jyuu tersenyum hangat, “Ayo, kembali seperti dulu. Karin yang dulu selalu bersemangat.”
“Ehheh, iya. Aku akan kembali bersemangat. Terimakasih, Jyuu.”
DEP!
Semilir angin berembus menerpa rambut Karin. Desahan napas Jyuu dapat ia rasakan diatas kepalanya. Jantung Karin berdegup kencang. Wangi tubuh Jyuu membuatnya sedikit luluh. Hangat. Ternyata, hangat sekali dekapan Jyuu, batin Karin. Jyuu tiba-tiba saja memeluk hangat Karin.
Sebelah tangan Jyuu mulai membelai rambut Karin dan menyentuh lehernya. Wajah Karin langsung memerah. Karin pun sedikit menjinjitkan kakinya dan memiringkan sedikit kepalanya. Jyuu juga sedikit memiringkan kepalanya. Mata mereka mulai menutup dan dibawah lembutnya awan kumulus mereka melakukan ciuman pertamanya.
Jyuu, aku suka. Aku suka Jyuu, batin Karin.

Minami sudah berhadapan dengan kon ke-6 miliknya. Kon itu adalah seorang gadis tunawisma dan ia bersedia untuk kembali pada Minami. Perlahan tubuh gadi tunawisma itu berubah menjadi helaian bulu putih dan ia pun menghilang. Keseimbangan Minami mulai terganggu, pengembalian kon ini kedalam tubuhnya membuat cakranya menurun. Ia akan beristirahat seharian untuk mengembalikan cakranya kembali.
Tugas Nekomaru tinggal sedikit lagi. Ia masih harus menemukan kon yang terakhir agar upacara penyegelan portal itu bisa dilakukan serta ia dan juga yang lainnya akan berusaha mengambil kembali Bulu Putih itu. Waktunya sudah tidak banyak dan Toki no Sabaku terus berjalan. Ryuuka harus bisa bertahan lebih lama lagi. Harus bertahan.










____________________________________________________________________
by: Amakusa Ryuu
READ MORE BLACK-WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 3 (LIKE A WIND TOUCH YOUR HEART)

BLACK- WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 2 (THE BLACK FEATHER)

Kesal, marah, sedih bercampur menjadi satu dalam hati Jyuu. Ia tak bisa membiarkan kakaknya mati begitu saja. Bagaimanapun caranya, ia harus mencari jalan terbaik agar Eikyuu no Hi itu bisa kembali ke Ellysium dan kakaknya bisa tetap hidup. Semakin dipikirkan, ia jadi semakin pusing sendiri.
PRANG!!
Suara barang pecah belah! Jyuu langsung terlonjak dari tempat duduknya dan pergi keluar dari kamarnya. Kaoru juga mendengar suara itu dan mereka berdua pun berlari kearah asal suara itu berasal. Didepan pintu kamar Ryuuka sudah berdiri Sumika dengan wajah yang sangat cemas.
“Apa yang terjadi?” tanya Kaoru.
“Ibu tidak tahu. Ryuuka mengunci pintu kamarnya dan ia tak menyahut ketika ibu panggil,” jawab Sumika.
“Kak, dobrak saja. Aku jadi khawatir padanya,” kata Jyuu.
Jyuu dan Kaoru pun mencoba untuk mendobrak pintu kamar Ryuuka. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya, pintu itu pun terbuka. Kondisi kamar itu sangat berantakan, pecahan dari vas dan kemarik pun berserakan dilantai. Sedang Ryuuka sudah terbaring dilantai, wajahnya terlihat sangat pucat dan dari mulutnya mengeluarkan darah cukup banyak.
BATS!
Sayapnya pun merebah dan karena terkejutnya Sumika, ia sampai pingsan. Kaoru mendekap gadis itu dan membersihkan darah dari mulut gadis itu.
“Apa yang terjadi, Ryuuka?” tanya Kaoru cemas.
“Ryu…, Ryuken. Uhuk!” darah semakin banyak keluar dari mulutnya, “Dia masih mengincar Eikyuu no Hi.”
“Bertahanlah!” Kaoru memegang erat tangan gadis itu, “Apa dadamu terasa sakit?”
“Tidak. Aku tak dapat merasakan apapun.”
Apa? Kalau begitu gawat. Dia bisa menghilang kalau sampai jantungnya tak kembali, batin Kaoru. “Ryuuka, maaf kalau aku melakukan hal ini, tapi…,”
Mata Jyuu langsung terbelalak lebar. Kaoru melakukan hal itu didepan mata kepalanya sendiri. “Apa yang kau lakukan barusan?!” kata Jyuu sedikit marah.
“Ini akan menahan penyebaran racunnya.”
“Tapi, kenapa harus melakukannya dengan cara seperti itu.”
“Itu cara yang paling cepat. Sudahlah,” wajah Kaoru langsung memerah, “Aku harus pergi mengejar Angelordies keparat itu! Dan kau tolong jaga mereka berdua, yah.”
Kaoru langsung pergi dengan membawa serta katana-nya. Matanya langsung berubah menjadi merah dan sangat berapi-api, ia pun mengeluarkan hawa membunuh yang sangat kuat. Takkan kumaafkan!
Didepan rumah, Soraoka sudah menunggunya. “Ayo, darah hitam itu masih sangat segar. Mari membunuh,” katanya dingin. Senyum dingin pun Kaoru tunjukan padanya.
Kaoru memejamkan matanya. Ia mencoba berkomunikasi dengan menggunakan telepathy dengan Nekomaru. Nekomaru yang sedang bersantai diatas pohon langsung pergi ke rumah Ryuuka. Kaoru menyuruhnya untuk menjaga rumah itu sementara waktu.
Entah ini memang pancingan Ryuken atau memang kebetulan. Mereka bertiga akhirnya bertemu di depan sebuah gereja tua yang sudah tak terurus lagi. Kaoru melaju satu langkah namun, Soraoka menahannya. Ia hanya mengatakan, bertarunglah dengan kepala dingin. Jangan sampai musuh mengetahui kelemahan kita hanya karena kecerobohan kecil.
“Hmf! Kau menginginkan ini, Kaoru?” tanya Ryuken licik dan ditunjukannya sehelai Bulu Putih pada Kaoru, “Coba saja mengambilnya dariku.”
“Brengsek! Kau masih belum puas mengambil kebebasannya? Sekarang, jantungnya pun kau ambil. Keparat kau, Ryuken!” kata Kaoru.
“Kuberi tahu satu hal. Angelica tak berguna seperti dia tak pantas memiliki Bulu Putih ini.”
“Apa katamu!!”
Tanpa mengulur waktu lagi, Kaoru langsung menyerang Ryuken. Sayapnya pun merebah lebar sedang Soroka memperhatikanya dari jarak yang cukup jauh. Ia mengamati cara bertarung mereka dengan demikian ia akan mencari titik lemah musuh dengan menganalisa cara bertarung mereka.
Awalnya Ryuken bertarung dengan mudahnya tapi, lama-lama ia jadi mulai merasa kesulitan. Ia tak menyangka kecepatan dan kemampuan bertarung Kaoru bisa berkembang secepat ini. Bukan mustahil ia bisa kalah dari Kaoru jika lengah sedikit saja.
Soraoka mengerutkan dahinya. Ia merasa ada keganjilan dalam pertarungan ini. Sayap Kaoru semakin lama berubah menjadi keabu-abuan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ryuken mulai merasa kelelahan dan cakranya sudah mulai menurun sedang Kaoru masih terlihat sangat kuat dan malah semakin cepat gerakannya. Ia pun mulai merasakan keanehan pada Kaoru. Mata pria itu semakin merah seperti warna darah dan sayapnya berubah menjadi keabuan.
Dengan taruhan selururuh cakranya, Ryuken pun mengerahkan seluruh cakranya dan dengan katana-nya ia menyalurkan seluruh cakranya pada katana itu.
SRAT!
Sayap sebelah kiri Kaoru terpotong dan darah pun mengalir dengan deras. Namun, ekspresi wajahnya tetap tidak berubah dan ia malah tersenyum licik. “Bodoh, kalau kau menebas sayapku. Aku takkan mati walau kedua sayapku terpotong,” kata Kaoru, “Aku malah akan semakin kuat!”
BATS!
Sayap yang terpotong itu pun digantikan dengan sayap yang baru. Warna abunya pun semakin pekat. Dengan tatapan tak percaya, Ryuken mengacungkan katana-nya pada Kaoru. Bagaimana bisa seperti ini?, batinnya.
“Damn Black Father, cabutlah jiwa yang terkutuk ini dan bakarlah dalam kekalnya tungku api Asphodel,” Ryuken menggoreskan mata katana-nya pada permukaan dalam tangannya, “Black wolfs”
WUSH!
Angin kencang pun bertiup. Soraoka hampir diterbangkan angin itu tapi, ia berpegang pada katana-nya yang ditancapkan ditanah. Kaoru masih berdiri dengan tenangnya. Sedang Ryuken menuliskan sebuah mantra sihir dengan darahnya itu diatas tanah.
Serigala-serigala hitam pun bermunculan dan salah satu dari serigala itu terdapat seekor anjing berkepala tiga. Jumlah serigala-serigala itu tak terhitung. Dia memanggil Cerberus. Ini mantra sihir tingkat tinggi, aku harus lebih waspada, batin Kaoru.
“Serang Angelicus itu!” titah Ryuken.
Serigala-serigala itu pun berlarian kearah Kaoru. Mereka menyerang dengan membabi buta dan dengan kebuasan mereka. Namun, Kaoru masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. “Holy White Mother, kekang kekuatan hitam ini dalam sucinya Holygrail,” Kaoru membuat sebuah segel diatas tanah, “Hapuskan!”
Tetes-tetes air pun mulai berjatuhan dari atas langit. Rasanya seperti air hujan tapi sebenarnya ini bukan hujan sebenarnya. Tetesan-tetesan air ini sebenaranya adalah airmata para Angelica yang gugur dalam perang lima ratus tahun lalu. Setelah tetesan-tetesan air itu berhenti berjatuhan, ribuan burung merpati putih pun berdatangan dengan membawa bara api dan bara api itu pun dijatuhkan diatas serigala-serigala hitam itu.
BWOSH!
Area mereka bertarung sudah menjadi lautan api karena bara-bara api itu berjatuhan dimana-mana dan menyulut hidupnya api. Serigala-serigala hitam itu tewas terbakar dan Ryuken sudah menampakan wajah cemasnya.
“Serahkan Bulu Putih itu dan juga sayapmu,” kata Kaoru.
“Cih! Enak saja, aku takkan menyerahkannya padamu,” kata Ryuken.
“Aku hanya memberikan kesempatan sekali saja. Serahkan sekarang atau kubunuh kau.”
“Tidak akan kuserahkan.”
“Itu pilihanmu. Siash Meanimpus Axio…,”
SYUTH!
Sebuah anak panah meluncur dengan kencang dan menancap dikaki Ryuken. Suara seorang perempuan menghentikan Kaoru untuk melanjutkan mantranya.
“Hentikan!” Minami berdiri dengan wajah yang sedikit pucat. Tangannya memegang sebuah busur yang siap meluncurkan anak panahnya lagi. “Hentikan pertarungan ini.”
Soraoka hanya diam saja. Ia tak mau mencampuri urusan yang menyangkut misinya. Benar-benar anak yang sangat dingin. Dengan note-nya ia mencatat semua hal tentang pertarungan tadi.
Tanpa menunda kesempatan ini, Ryuken langsung menghilang dan melarikan diri dari pertarungan yang sudah berat sebelah ini. Kaoru terlihat sangat geram tapi Ryuken sudah pergi melarikan diri dan ia tak bisa mengejarnya. Minami mulai terhuyung-huyung dan akhirnya ia pingsan ditempat.
“Sir Shirokusa, kalau Bulu Putih itu tak kembali gunakan ini saja,” Soraoka menunjukan Bulu Hitam pada Kaoru, “Ini bisa memperpanjang hidup kon Miss Minami untuk beberapa bulan kedepan.”
Kaoru menyipitkan matanya, “Apa tidak apa-apa?”
“Sebenarnya, Bulu Hitam ini mempunyai efek samping.”
“Apa itu?”
“Kon atau Angelica yang memakai kekuatan Bulu Hitam ini lama-lama emosinya akan menghilang. Tak bisa merasakan apapun dan akhirnya ia pun juga akan menghilang.”
“Menghilang.”
Kaoru jadi sedikit kecewa mendengar hal itu tapi, mau bagaimana lagi? Bulu Putih itu sudah dicuri Ryuken dan jika Ryuuka tak bisa mendapatkan lagi jantungnya –Bulu Putih-, ia juga akan menghilang dalam waktu kurang dari jam lagi. Ini membuatnya bingung setengah mati.
Minami siuman dari pingsannya dan Kaoru pun memberikannya segelas minum. Sumika sudah tahu semuanya tentang Kaoru dan juga yang lainnya. Sama seperti Jyuu, ia juga awalnya tak percaya pada makhluk seperti mereka. Tapi, setelah melihat Kaoru, Minami dan Key atau Soraoka, ia jadi mulai mempercayai hal itu.
“Minami, sebenarnya, aku ingin meminta bantuanmu,” kata Kaoru dengan sedikit ragu-ragu.
Minami sedikit memiringkan kepalanya, “Apa itu?”
“Tolong kau…,”

Matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka. Jantungnya pun sudah mulai berdetak normal. Ia dikelilingi orang-orang yang beberapa diantaranya tidak ia kenal. Ia pun membuka mulutnya, “Apa yang sudah terjadi disini?”
Sumika mulai menitikan airmatanya dan Jyuu pun hanya bisa memeluk ibunya. Kaoru, Minami dan Nekomaru tersenyum hangat sedang Soraoka tetap memasang wajah dinginnya. “Selamat datang kembali, Ryuuka,” kata Kaoru.
Minami mengulurkan tangannya, “Ryuuka, syukurlah, kami belum terlambat,” katanya.
“Siapa kau?” tanya Ryuuka.
“Perkenalkan namaku Minami.”
Jadi, dia yang bernama Minami. Cantik sekali. Kulitnya putih dan rambut hitam panjang sepinggang. Benar-benar tipe gadis ideal, batin Ryuuka. “Yah, salam kenal.”
Nekomaru melambai-lambaikan tangannya, “Miss Amatsuki! Aku juga mau memperkenalkan diri. Namaku Nekomaru,” katanya dengan semangat. Telinga kucing dan ekornya pun keluar.
“Hai, Nekomaru.”
Kaoru menyenggol tangan Soraoka. Lelaki itu masih belum bisa bersikap manis atau tersenyum sedikit saja. Kaoru kembali menyenggol tangan Soraoka. Akhirnya ia mau membuka mulutnya, “Aku Eniwa Soraoka. Salam kenal.”
S I I I I I I I I I I N N N G ! ! !
Keadaan menjadi sunyi sejenak. Anak ini, dingin sekali sikapnya. Apa dia tidak bisa menunjukan ekspresi wajah yang hangat?!, batin mereka.
“Euh? Ya, eh, itu, salam kenal juga Eniwa.”
Ryuuka dibuatnya kikuk tapi yang bersangkutan malah tak menanggapinya. Minami pun memberi isyarat agar mereka meninggalkannya berdua saja bersama Ryuuka. Ada hal yang harus ia bicarakan berdua saja dengan gadis itu.
“Uhm! Aku langsung saja pokok masalahnya,” Minami menunjukan wajah seriusnya, “Apa kau bisa membantu kami?”
Gadis ini. Apa maksudnya?, batin Ryuuka. “Aku…, tidak bisa membantu kalian. Aku pun tak tahu harus membantu apa?”
GREB!
Minami mencengkeram erat bahu Ryuuka, “Menyegel kembali portal antara Ellysium dan Asphodel agar para Angelordies serta para Demoicart tidak dapat melewati portal tersebut dan Bumi pun akan aman dari makhuk seperti kami,” jelas Minami.
Dia benar-benar ke pokok masalahnya, pikir Ryuuka. “Bukannya, kalian mempunyai pemimpin bernama Christoper-sama, kenapa bukan dia sendiri yang menyegelnya?!”
“Penyegelan hanya bisa dilakukan oleh Angelica yang memegang Bulu Putih dan Bulu Hitam itu saja dan ia juga harus memiliki sayap seperti Angelordies tingkat Alpha+.”
“Aku tak bisa. Aku harus mengatakan berapa kali agar kalian mengerti.”
PLAK!
Sebuah tamparan cukup keras mendarat dipipi Ryuuka. Sudah cukup Minami menahan kekesalannya. Gadis ini kekanakan sekali sikapya. Ia bisa saja merebut kon-nya dan menghilangkan gadis ini. Biar dia saja yang melakukan penyegelan ini sendiri. Tapi, karena suatu alasan ia jadi tak bisa melakukannya.
“Berhentilah bersikap kekanakan seperti itu. Aku muak sekali melihatnya”
“Apa masalahmu?!” bentak Ryuuka, “Aku bukan Angelica sinting sepertimu! Aku hanya ingin kembali ke kehidupan normalku bukan mengurusi urusan bodoh kalian!!”
“Bicara apa kau ini! Kau adalah kon milikku dan kau tak berhak berkata seperti itu padaku. Pemilikmu!!”
Kaoru dan yang lain mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu. Mereka asyik sekali mendengar pertengkaran dua orang gadis yang sama-sama keras kepala. Soraoka meminum tehnya dengan tenang dan tidak ikut-ikutan seperti mereka.
Mendengar hal itu, Ryuuka tak bisa berkata apa-apa. Sekarang ia jadi terpojok dan tak bisa membalas kata-kata Minami. Ia pun menundukan kepalanya. Kesal rasanya kalau terjebak oleh kata-kata sendiri. Ryuuka menggigit lidahnya karena saking kesalnya. Darah segar pun keluar dari mulutnya.
“Terserah,” kata Ryuuka pelan.
“Euh?”
“Terserah apapun yang ingin kau lakukan padaku tapi, satu hal yang perlu kau ingat. Jangan libatkan orang lain dalam masalah ini.”
Ia tak suka dipojokan. Mudah juga menaklukan gadis ini, batin Minami. “Baik kalau itu maumu. Mulai saat ini, aku mohon kerjasamanya.”
“Ya.”
“Ah, satu hal lagi. Berterimaksihlah pada Kaoru. Dia yang menyelamatkanmu.” Minami tersenyum hangat, “ Dan, katakan lagi saja hal itu padanya. Sebelum kau tak bisa mengatakan hal itu padanya.”
Seketika itu wajah Ryuuka langsung berubah merah. Dia tahu hal itu? Apa ini yang namanya ikatan kon dan pemilik kon?, batin Ryuuka. Minami pun keluar dari kamar Ryuuka. “Beristirhatlah dulu dan jangan memikirkan hal-hal negatif, yah,” kata Minami sambil membuka kenop pintu.
GUBRAK!
Orang-orang yang menguping dari balik pintu langsung terjatuh bersamaan. Aura jahat Minami pun langsung menyeruak keluar. Wajah mereka pun langsung berubah pucat pasi. “Kalian…, apa yang kalian lakukan?!!”
BRAK! BRUK! GUBRAK!
MEOW~, GABRUSH! KLONTANG! BRUAK!
Minami sudah tak bisa dihentikan lagi. Sementara itu, Soraoka…,
“Teh hitam ini benar-benar nikmat,” katanya dengan tenang sedangkan disampingnya Kaoru, Nekomaru dan Jyuu sudah babak belur karena pukulan-pukulan maut Minami.











____________________________________________________________________
by: Amakusa Ryuu
READ MORE BLACK- WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 2 (THE BLACK FEATHER)

BLACK-WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 1 (KAORU AND MINAMI)

“Kaoru,” kata Minami pelan. Sudah ada dua minggu ia selalu berada diatas ranjangnya. Diatas ranjang itu dipenuhi bulu-bulu putih yang terlepas dari sayapnya.
Nekoma masuk kedalam kamar dengan membawa makan siang. “Miss Minami, ini makan siang anda,” katanya sambil meletakan nampan diatas meja.
“Terimakasih Nekoma, kau baik sekali.”
“Tidak, ini bukan apa-apa,” Nekoma duduk disamping ranjang Minami, “Apa anda merindukan Master Kaoru?”
Minami hanya tersenyum, “Ya dan sangat aku ingin bertemu dengannya.”
“Hmm, semoga saja beliau dapat menemui anda secepatnya.”
“Semoga saja begitu.”
“Kalau begitu, saya keluar, yah. Selamat menikmati makan siang anda, Miss Minami.”
Setelah Nekoma keluar, Minami pun memakan makan siangnya. Dalam hati ia ingin sekali bertemu dengan Kaoru. Ada hal yang harus ia ceritakan pada pria itu sebelum waktuya habis.

Ellysium.
Vanhelthrob berjalan menuju altar Ellysium bersama dengan satu Angelicus lelaki lain. Ia berperawakan tinggi dan jika dibandingkan seorang manusia, ia seperti anak SMA kelas 2. Mereka berdua berniat untuk menghadap Christoper-sama.
“Key, misimu untuk kali ini adalah membawa Bulu Putih itu kembali,” Christoper-sama memberikan sehelai bulu hitam pada Key, “Gunakan Bulu Hitam ini untuk membatasi kekuatan Bulu Putih itu. Ini akan melindungimu.”
Key pun menerima Bulu hitam itu, “Terimaksih, Christoper-sama. Saya akan berusaha dalam menjalankan misi ini.”
“Pergilah.”
“Baik.”
Kedua sayap putihnya merebah dan ia pun hilang ditelan angin putih. Ia akan mencari Bulu Putih itu di Bumi. Vanhelthrob mengantarnya sampai ke Jembatan Pelangi. Jembatan yang menghubungkan antara Bumi tempat manusia dengan Ellysium.
Liburan musim panas sudah berakhir. Jyuu pun pergi ke sekolah seperti biasanya. Didepan rumah, Karin sudah menunggunya. Mereka akan berangkat kesekolah bersama-sama.
Dikelas Jyuu ternyata ada murid baru. Perawakannya tinggi dan wajahnya sangat tampan. Seluruh siswi perempuan langsung berteriak histeris. Ia pun menulis namanya di papan tulis, “Perkenalkan namaku Eniwa Soraoka. Aku murid pindahan asal Osaka. Salam kenal,” ia membungkukan sedikit badannya.
“Kyaa~, tampan sekali,” kata mereka. Sedang para siswa laki-laki hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya anak baru itu akan menjadi idola sekolah ini.
Sepulang sekolah Jyuu tak langsung pulang karena ia harus membantu Pak Koda membereskan lab. Biologi. Setelah selesai, ia berniat untuk langsung pulang tapi, ketika ia melihat keluar jendela dilihatnya langit sore yang begitu indah. Ia jadi ingin melihatnya dari atas atap sekolah.
Dengan langkah cepat ia menaiki tangga dan ia pun membuka pintu atap itu perlahan. Dilihatnya seorang siswa sedang berdiri sambil melihat langit. “Soraoka? Apa yang dilakukannya disini?,” gumam Jyuu.
BATS!
Sepasang sayap putih keluar dari balik punggungnya sampai bajunya sobek. Jyuu sangat terkejut melihat kedua sayap itu. Dia? Sebenarnya, siapa dia?, Jyuu membatin.
Soraoka membuka sarung katana-nya dan dipermukaan katana itu terdapat ukiran seekor naga. Katana yang sangat indah.
TRANG!
Seorang lelaki yang usianya sekitar dua puluh lima tahunan menyerang Soraoka namun ia dapat menangkis serangan katana pria itu. Pria itu memakai topeng berwajah setan. “Fu fu fu, kau belum berubah juga, Soraoka atau harus kupanggil Key,” kata pria itu.
“Hmf, Sir Shirokusa sendiri juga masih belum berubah. Masih seperti dulu, langsung menyerang tanpa ragu.”
Shirokusa katanya? Apa…, tidak! Aku tidak boleh berpikir negatif dulu, pikir Jyuu. Mereka berdua pun berhenti saling menyerang. Keduanya malah saling berpelukan, “Lama tak jumpa,” kata mereka bersamaan.
“Sir Shirokusa kenapa harus memakai topeng?” tanya Soraoka.
“Hehehe, hanya iseng saja.”
“Ayo, buka topeng anda.”
Shirokusa pun membuka topeng dan Jyuu pun jadi semakin kaget melihatnya. “Shirokusa Kaoru!” kata Jyuu sambil membuka pintu atap lebar-lebar. Mereka berdua langsung tersentak kaget. Bagaimana ini?

Rumah Kediaman Hohikaze.
“Kau masih berurusan dengan para makhluk langit itu, Nekomaru?” tanya majikannya.
“Ya, apa anda keberatan?”
“Tidak, hanya saja aku ingin tahu lebih banyak tentang lebih banyak tentang mereka.”
“Soal itu, saya tidak bisa menceritakannya sebelum mendapat ijin dari majikan saya terdahulu, Master Kaoru.”
“Ternyata begitu, yah,” gadis itu menghela napas, “Hhh~, baiklah aku mengerti.”
“Maafkan saya, Miss Karin.”
Karin hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk pergi. Nekomaru pun pergi untuk melanjutkan kembali pencariannya. Sebenarnya, Karin ingin tahu lebih banyak tentang para Angelicus itu tapi, ia tak mungkin memaksa Nekomaru untuk menceritakannya.
Diperjalanan pulang, Jyuu jadi sedikit menjaga jarak dengan Kaoru. Ia masih tidak percaya dengan apa yang tadi pria itu ceritakan. Dalam hatinya ia sedikit merasa takut padanya. Entah karena apa tapi yang jelas, Kaoru itu bukan manusia seperti dia.
“Kenapa kau jadi menjauhiku, Jyuu?” tanya Kaoru.
“Tidak, kok. Aku hanya ingin berjalan berjauhan dulu dengan Kak Kaoru,” jawabnya dengan sedikit gugup.
Ia tahu kalau Jyuu sedikit takut padanya, “Kau takut padaku, yah?”
“Tidak, bukan begitu. Tapi,…”
Kaoru merangkul akrab pundak Jyuu, “Tenang saja, aku takkan menyakitimu. Kalau kau benar-benar lelaki tangguh, kalahkan rasa takutmu itu.”
Jyuu hanya tertunduk malu. Benar juga, kenapa ia harus takut pada Kaoru. Selama ini ia selalu bersikap baik padanya, malah dengan kehadirannya dirumah bisa menggantikan sosok ayahnya yang sudah lama meninggal sekaligus meringankan pekerjaan rumah mereka –bilang saja ia dijadikan pembatu rumah tangga-.
Selesai mandi, Jyuu mendatangi kamar Kaoru. Ia jadi ingin tahu lebih banyak tentang pria itu. Mereka mengobrol cukup lama sampai Ryuuka heran pada mereka berdua.
“Jadi, beberapa Angelicus berada di Bumi untuk mencari Angelica terakhir dan juga Eikyuu no Hi-nya? Memangnya apa hubungannya?” tanya Jyuu.
“Angelica terakhir itu mempunyai ingatan dimana Eikyuu no Hi itu berada. Sebenarnya, hanya Christoper-sama yang mengetahuinya tapi agar tidak ditemukan lebih oleh para Angelordies ia mengutus Angelica terakhir untuk membawa Eikyuu no Hi itu kembali ke Ellysium,” jelas Kaoru.
“Kenapa tidak Christoper-sama saja yang mengambil Eikyuu no Hi itu sendiri?”
“Tidak bisa, karena jika itu dilakukan keseimbangan antara Ellysium dan Bumi akan goyah. Beliau tak bisa pergi ke Bumi dan ia tak mungkin menggunakan kekuatannya untuk mengambil Eikyuu no Hi itu.”
“Kenapa?”
“Karena Bumi takkan bisa menahan kekuatan beliau yang sangat besar itu. Maka dari itu, beliau mengutus Angelica terakhir untuk mengambilnya?” Kaoru meregangkan badannya, “Kau tahu ada dimana Eikyuu no Hi itu sekarang?”
Jyuu hanya menggeleng, “Ada pada kakakmu sendiri, Amatsuki Ryuuka. Dia merupakan kon dari Minami, dia adalah Angelica terakhir itu.”
Sejenak Jyuu terdiam, “Lalu, bagaimana dengan Soraoka?”
“Dia seorang Angelicus sama sepertiku. Misinya cukup berat, ia harus membawa pulang Eikyuu no Hi dan kau harus siap kehilangan kakakmu.”
“Kenapa begitu?”
Kaoru menghela napasnya, “Eikyuu no Hi sebenarnya adalah Bulu Putih yang diperebutkan itu dan jika Eikyuu no Hi diambil dari pemiliknya, ia harus…, MATI. Begitu pula dengan pemilik kon itu sendiri, ia juga akan mati.”
Ketika mendengar itu Jyuu langsung terdiam. Ia tak mau kehilangan kakaknya, walau ia agak menyebalkan tapi tetap saja Ryuuka itu adalah kakaknya. Sudah cukup ia kehilangan ayahnya, ia tak mau sampai kehilangan kakaknya.
Ia pun pergi keluar dari kamar Kaoru dengan langkah berat. Kenapa aku harus tahu semua ini? Coba saja tadi aku tidak pergi ke atap sekolah. Aku pasti tidak akan tahu jati diri mereka yang sebenarnya. Sial!, batin Jyuu.
“Jyuu, maafkan aku,” gumam Kaoru. Wajahnya tampak sedikit kecewa, walau begitu ia memang harus menceritakannya cepat atau lambat. Karena lambat laun semua penyamarannya ini akan terbongkar.
Nekomaru berdiri disamping Kaoru, “Ada masalah, Master?” tanyanya. Kaoru menggelang dan tersenyum tipis. Seperti biasa ia datang untuk melaporkan hasil pencarian dan keadaan Minami.
“Miss Minami ingin bertemu dengan anda, Master,” kata Nekomaru, “Ada hal penting yang ingin beliau bicarakan dengan anda.”
“Begitu, yah. Aku akan segera menemuinya. Kau berubah saja dulu, aku mau mengganti pakaianku.”
Setelah selesai, Kaoru berjalan menuruni tangga sambil menggendong Nekomaru yang sudah berubah menjadi kucing hitam. Pakainnya cukup rapi tapi tidak resmi. Kaos putih leher dan lengan panjang dengan jaket hitam serta celana katun hitam ia kenakan.
“Kau mau pergi kemana?” tanya Ryuuka.
“Menemui Minami.” Ia pun langsung berpamitan pada ibu Ryuuka dan langsung pergi. Lagi-lagi perasaan kesal menyergap hati Ryuuka. Ia pergi kekamarnya sambil membanting pintu kamar. Ibu dan adiknya merasa heran, kenapa sikap Ryuuka tiba-tiba berubah aneh begitu?
Kaoru sudah berada di pintu kamar Minami. Nekoma menganggukan kepalanya begitu juga dengan Nekomaru. Ia memegang kenop pintu erat-erat dan ia pun membuka pintu kamar itu. Dilihatnya sseorang gadis dengan sayap yang merebah lebar dan wajahnya terlihat sangat pucat. Ia berlari kearah ranjang gadis itu dan langsung memeluknya hangat.
Tangis haru pun pecah dan sayap Kaoru pun merebah. Suasana menjadi sangat mengharukan. Nekoma dan Nekomaru melihat dari ambang pintu. Akhirnya, bisa bertemu juga, batin Nekoma dan Nekomaru.
“Maaf, aku baru menemuimu sekarang,” kata Kaoru sambil menitikan airmata.
“Tidak apa-apa, aku sudah lama menunggumu. Aku sangat merindukanmu, aku takut kau takkan datang.”
“Minami, jangan tinggalkan aku lagi. Sudah cukup waktu lima ratus tahun itu memisahkan kita. Jangan pernah pergi dari sisiku lagi.”
Tangan Minami tiba-tiba menjadi gemetar dan Kaoru pun mencengkeram lembut kedua tangan gadis itu. Dengan lembut ia mengapus airmata gadis itu, “Jangan menangis lagi, yah. Aku sudah ada disini. Semuanya ‘kan baik-baik saja, percayalah.”
Kedua sayap Kaoru merangkul tubuh mereka berdua. Helaian bulu-bulu putih beterbaran. Nekoma dan Nekomaru jadi penasaran apa yang mereka lakukan dibalik sayap itu. Apa jangan-jangan…

SMA Mizuno, Tokyo, Jepang.
Pagi ini Jyuu menunggu Soraoka didepan pintu gerbang sekolah. Sepuluh menit kemudian, Soraoka pun datang. Dengan cepat ia menarik tangan Soraoka dan membawanya kebelakang sekolah.
“Soraoka, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu?”
“Soal yang kemarin lusa itu?”
“Bukan! Ini tentang misimu. Apa bisa kau membatalkan misimu itu?”
Soraoka tertawa kecil, “Kau bercanda, yah? Aku tak mungkin membatalkan misiku. Hhh~, ternyata, ia menceritakan sampai sejauh itu. ”
“Tapi, ini menyangkut kakakku!!”
“Itu bukan urusaku.”
Jyuu menjadi geram dan ia melemparkan pukulan kearah Soraoka. Tapi, Soraoka dapat menghindar dan melumpuhkan serangan Jyuu. Tangannya mencengkeram erat tangaan Jyuu yang sudah dibalik kearah punggungnya.
“Aku bisa saja mematahkan tanganmu tapi, mood-ku sekarang sedang bagus, bersyukurlah kau. Kali ini dengarkan aku baik-baik. Ada dua hal yang harus kau ingat. Satu, jangan campuri misiku. Dua, kau cukup diam dan melihat saja,” kata Soraoka.
“Kenapa kau tak membunuhku saja?!”
“Sebenarnya, aku bisa saja membunuhmu tapi, ini demi Sir Shirokusa,” Soraoka pun melepaskan Jyuu, “Ayo, kita kembali ke kelas dan jangan sampai terlihat kau habis berkelahi.”
Jyuu pun merapikan seragamnya dan ia mengikuti Soraoka dari belakang. Karin yang melihat mereka berkelahi tidak dapat berbuat apa-apa. “Makhluk langit itu mulai mengancam keberadaan manusia,” gumamnya














____________________________________________________________________
by: Amakusa Ryuu
READ MORE BLACK-WHITE FEATHERS - REAL IDENTITY PART 1 (KAORU AND MINAMI)

Rabu, 18 November 2009

BLACK-WHITE FEATHERS "THE LAST ANGELICA PART 4 END "(Minami and Ryuuka)"

“Hikaru,” kata Ryuuka, “Bagaimana, kau menyukainya?”
Seulas senyum ia lemparkan pada gadis itu, “Kau terlihat manis dengan kimono merah itu.”
“Hmm, terimakasih,” Ryuuka memegang tangan Hikaru, “Ayo, kita pergi. Aku ingin sekali pergi kesana.”
“Iya,” wajah Hikaru sedikit merah. Mereka pun pergi ke festival musim panas dengan perasaan senang. Di festival itu banyak sekali stand permainan yang menarik. Salah satunya stand permainan ikan mas koki, Ryuuka terlihat sangat senang.
“Ah, itu-itu, aku mau membeli topeng berwajah binatang itu. Lucu sekali kelihatannya,” katanya sambil menunjukan kearah stand yang menjual topeng.
“Wah, selamat datang,” kata si penjual, “Silakan pilih yang kalian suka.”
“Kau mau yang mana?” tanya Hikaru.
“Umm, aku mau yang berwajah kelinci itu, kalau Hikaru?”
“Ya, sudah, aku yang berwajah kucing saja.”
Setelah membayar mereka pergi ketengah lapangan untuk menyaksikan pementasan Bedug Suci Kuil Shirayami. Beberapa orang pemuda berdiri dan memukul bedug itu dengan tenaga yang luar biasa kuat. Bunyi yang dikeluarkannya sangat indah dan menenangkan.
Ryuuka yang duduk disamping Hikaru langsung menyandarkan kepalanya dipundak Hikaru. Sebelah tangannya merangkul gadis itu. “Seandainya, kita bisa seperti ini terus. Rasanya pasti sangat menyenangkan, bukan?” kata Ryuuka.
“Yah, sayangnya kita tak bisa terus bersama seperti ini.”
Ryuuka mengangkat wajahnya dan menatap wajah Hikaru, “Apa maksudmu?”
“Kita punya jalan kita masing-masing dan kau harus menentukan sendiri jalanmu sendiri.”
“Aku tahu, tapi, aku sudah memikirkan ini dari dulu,” Ryuuka tersenyum lembut, “Kemanapun kau pergi, aku akan selalu bersamamu.”
Hikaru menatap wajah gadis itu lekat-lekat dan mulai memeluknya erat. “Apa kau takkan menyesal?”
“Aku takkan pernah menyesal.”
Hikaru pun melepaskan pelukannya dan ia menggigit sedikit permukaan dalam ibu jarinya, hal yang sama Ryuuka lakukan, “Sahabat sejati takkan pernah mengingkari ucapannya,” kata mereka bersamaan sambil menempelkan ibu jari mereka.

“Ah!” Hikaru tersadar dari lamunannya, “Kenapa ingatan masa kecil itu jadi teringat kembali?”
Ryuuka yang berada disamping Hikaru hanya mengangkat sebelah alisnya, “Ada apa, Hikaru? Wajahmu sampai memerah begitu, kau demam, yah?”
“Ah, euh, itu, umm, tak ada apa-apa. Ayo, kita kembali bekerja,” Hikaru bangun dari tempat duduknya dan pergi keluar pantry.
“Kenapa dia? Aneh sekali,” gumam Ryuuka.

Minami tertunduk lesu di sebuah bangku taman. Kaoru yang aneh melihat keadaan gadis itu hanya mengernyitkan dahinya. “Ada apa?” tanyanya.
“Aku baru saja mendapat misi yang cukup berat,” jawabnya lemas.
“Misi apa itu?”
“Membunuh Angelordies yang bernama Ryuken.”
Kaoru terlonjak kaget, ia tak percaya dengan apa yang baru saja dengar. “Kau serius?”
“Apa aku terlihat sedang bermain-main.”
“Tapi…, kau bisa dibunuhnya. Aku tak mau kehilanganmu, Minami,” kedua tangan Kaoru mencengkeram bahu gadis itu, ”Ijinkan aku yang pergi menjalankan misimu. Aku yang akan menggantikanmu.”
Minami menggeleng keras. Ia tak mau ada yang berani turut campur dalam misinya. “Tidak, ini adalah misiku dan kau tak mencampurinya.”
“Tapi…,”
“Kaoru, percayalah padaku. Aku takkan mudah mati begitu saja,” Minami tersenyum tipis, “Kau doakan aku semoga berhasil, yah?”
Kaoru tersenyum kecut, perasaan buruk menyergap hatinya. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada gadis itu. “Jangan mati, yah. Kau adalah Angelica terakhir kami.”
“Pasti, aku pasti akan pulang dengan selamat. Perang lima puluh tahun yang lalu adalah sebuah awal dari sebuah kebangkitan,” Minami bangun dari duduknya, “Ah~, lega rasanya. Terimakasih sudah mau mendengarkan ceritaku.”
“Ya,” jawabnya singkat. Senyum hangat Kaoru mengantarkan gadis itu pergi ke Bumi. Sejujurnya, Kaoru tak percaya penuh pada keselamatan gadis itu. Dalam hatinya masih menyergap rasa khawatir yang sangat kuat.

“Sir Kaoru, maaf mengganggu anda,” kata seorang Angelicus tingkat Beta.
“Ada apa?”
“Minami gugur dalam menjalankan misinya. Sebelum ia meninggal, ia melepaskan ketujuh kon-nya dan satu kon-nya adalah reinkarnasinya.”
“Sekarang dimana ia?”
“Maaf, pasukan kami belum bisa menemukannya.”
“Begitu, segera lakukan pencarian terhadap Minami.”
“Baik!”
Angelicus itu pun pergi sedang Kaoru tak bisa melepaskan rasa cemas dan khawatir dalam dirinya. Ingin bertemu. Sangat ingin bertemu.
“Jadi, bagaimana?” tanya Ryuuka. Kaoru hanya diam saja, “Kaoru?”
“Euh? Maaf, tadi kau bicara apa?”
Ryuuka lansung menampakan wajah kesalnya. Tangannya mengepal keras.
“KAORU~!!!” kata Ryuuka sambil berteriak kencang. Kaoru yang sedari melamun saja langsung jatuh dari kursinya.
GUBRAK!
“Aduh~, ada apa, sih teriak-teriak begitu?!”
“Jadi, dari tadi kau tidak mendengarkanku?”
BLETAK!
Sebuah pukulan maut mendarat dikepala Kaoru. Penderitaan Kaoru semakin bertambah. “Argh~, kenapa kau memukulku?!”
“Itu karena salahmu sendiri. Darimana saja kau roh-mu itu!?”
“Pulang ke Asphodel.”
“Hhh~, sudahlah. Kau memang jadi sangat mengesalkan akhir-akhir ini.” Ryuuka membalikannya badannya dan pergi keluar dari ruang tengah.
“Terserah kau saja!” Kaoru juga membalikan badannya dan wajahnya berubah masam.
Jyuu yang melihat pertengkaran mereka berdua hanya bisa menghela napas panjang. Kenapa dua orang ini tidak bisa sehari saja akur, setiap hari kerja mereka hanya bertengkar dan bertengkar. Apa mereka tidak lelah?
Waktu menunjukan pukul 19.45, Yukino sedang belajar dikamarnya sedang Ryuken dan Bright sedang melihat acara ditelevisi. Mulai sekarang Bright juga akan tinggal dirumah Yukino. Gadis itu tinggal sendiri sedangkan kedua orangtuanya tinggal di luar negeri untuk bekerja.
“Ah, ya! Ryuken, aku baru saja menerima kabar dari Sir Nachtcross. Katanya Alice sudah mendapatkan apa yang kau mau,” kata Bright sambil terus mengemil kue beras.
“Kalau begitu baguslah. Besok suruh dia menemuiku.”
Euh? Aku ‘kan pengawasmu kenapa kau malah memberi perintah padaku? Seharusnya aku yang memberi perintah. Masih beruntung aku mau membantu misimu, batin Bright. “Umm, bagaimana kau menemuinya langsung.”
“Tidak, aku malas. Ah, ya! Aku dengar mereka juga tinggal dirumah seorang manusia. Apa nama marga rumah manusia itu?”
“Itakura.”
“Umm, kalau begitu,” Ryuken mengambil napas dalam, “Yukino~”
Gadis itu langsung terjungkal kebelakang kursinya. Dengan segera ia bangun dan bergegas menuruni tangga untuk menemui Ryuken.
“Ada apa Ryuken-sama?”
“Kau cari rumah yang bermarga Itakura dan setelah kau berhasil menemukannya, cari orang bernama Ryou Himura apa tinggal disana.”
“Ba, baik.”
Tangan Bright mencengkeram tangan gadis itu, “Tidak usah. Biar aku saja yang pergi. Kau lanjutkan saja belajarmu.”
“Tapi, Bright-sama…,”
“Sudahlah.”
Yukino pun membungkukan badannya dan kembali kekamarnya. Bright hanya geleng-geleng kepala. “Dasar kau ini.” kata Bright dan ia pun menghilang ditelan angin hitam. Sedang Ryuken hanya diam dan tetap berwajah dingin.

Sudah lima hari terakhir Ryuuka dan Kaoru saling diam. Mereka tidak berlatih bersama atau pergi ke toko buku seperti biasanya. Ternyata, Ryuuka masih marah karena sikap Kaoru yang bisa dibilang jadi menyebalkan. Kaoru yang sudah kesal dengan sikap Ryuuka yang kekanakan, ia pun langsung mengambil tindakan cepat.
“Maaf, kalau aku membuatmu kesal,” katanya setengah hati.
“Masih bisa kau berkata seperti itu!”
“Aku ‘kan sudah minta maaf! Sebenarnya apa sih maumu, Minami?!”
Z L E E E E E B B ! !
“Minami, Minami, selalu saja Minami. Aku ini bukan Minami tapi Ryuuka!!”
“Minami, maksudku Ryuuka, aku hanya ingin kau memaafkanku. Maaf.”
“Apa kau tahu, aku waktu itu sudah cukup malu untuk mengatakan hal itu padamu tapi kau malah tak mendengarkanku. Aku kecewa padamu!!”
GREB!
“Jangan pernah berkata seperti itu. Aku tak bermaksud untuk menyakiti atau membuatmu kecewa.” Kaoru memeluk erat gadis itu, “Maaf kalau aku selalu memanggilmu dengan nama Minami, itu dikarenakan kau sangat mirip dengannya.”
Ryuuka mencoba berontak namun tenaganya tidak sekuat Kaoru. Sebenarnya, ia merasa sesak karena dekapan Kaoru terlalu erat sampai ia sulit bernapas. “Lepas.”
“Aku takkan melepaskanmu sebelum kau tenang dan memaafkanku.”
“Jangan mimpi, dasar bodoh.”
Kaoru semakin erat memeluk gadis itu, “Kalau begini, bagaimana?”
“Sa, sakit, Kaoru. Kau mau membunuhku!?”
“Katakan kalau kau mau memaafkanku.”
“Ba, baik. Aku memaafkanmu.”
Setelah lepas dari dekapan Kaoru yang bagai lilitan ular phyton, Ryuuka mengambil napas banyak-banyak. Ia tak mau mati karena sesak napas. “Sebenarnya, apa yang sudah kau katakan padaku waktu itu?” tanya Kaoru.
Wajah Ryuuka langsung merah sampai ketelinga, “So, Soal itu lupakan saja. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”
“Apa itu?”
“Ceritakan padaku siapa sebenarnya Minami itu.” Kaoru tertawa kecil, ia tak menyangka kon Minami yang satu ini ternyata tidak mengenal siapa pemiliknya. “Kenapa malah tertawa?!”
“Khu khu khu, tidak apa-apa, kok.”
Ryuuka menarik kerah baju Kaoru, “Cepat ceritakan.”
“Ba, baik. Kau sabar dulu, khu khu khu.” Kaoru belum bisa berhenti tertawa tapi setelah lima menit berlalu akhirnya, ia bisa berhenti tertawa juga. “Fuh~, sebenarnya, Minami adalah orang yang sanagt kusayangi. Dia orang yang sangat baik dan aku tak mau kehilanganya. Tapi, sayangnya, ia harus mati dan ketujuh kon-nya terpencar entah kemana.”
“Kon?”
“Kon itu adalah hati atau jiwa. Beberapa dari bangsa kami ada yang memiliki sembilan kon, kira-kira satu trilliun banding lima. Seperti itulah. Sedang manusia, hewan da juga siluman sudah pasti memiliki kon dan haku. Haku adalah kekuatan yang menggerakan tubuh.”
“Jadi, maksudmu aku ini kon dari Minami?”
“Begitulah, kau adalah kon kelima. Dua kon lainnya belum ditemukan sedang empat lainnya sudah tewas dibunuh anak buah Ryuken.”
“Lalu, satu lagi?”
“Dia masih hidup dan dia itu adalah Minami sendiri,” Kaoru melayangkan senyum mautnya, “Maka dari itu, aku tak mau bermusuhan denganmu dan membiarkanmu menghilang. Karena, aku juga menyayangimu, Ryuuka.”
BLUSH!
Wajah Ryuuka langsung merah seperti kepiting rebus. “Ka, kaoru. Ada yang ingin kutanyakan lagi?”
“Apa?”
“Bagaimana dengan Eikyuu no Hi?”
“Saat ini yang perlu kau tahu hanyalah, jaga dirimu baik-baik, lindungi Eikyuu no dalam dirimu dan sering berlatih saja. Nanti, Eikyuu no Hi juga akan melindungimu dengan sendirinya.”
“Be, begitu, yah.”
“Ah~, badanku rasanya gerah. Aku mandi dulu, yah.”
Ia pun langsung pergi meninggalkan Ryuuka diruang tengah. Aku ternyata adalah kon dari Minami dan ternyata Kaoru sangat peduli padaku. Ah, tunggu! Dia peduli padaku apa karena aku adalah kon dari Minami atau dia memang peduli padaku sebagai Ryuuka?, batin Ryuuka.
“Ugh! Kenapa aku jadi kesal begini?,” gumam Ryuuka.
Dalam kamar mandi, Kaoru hanya berdiri dengan mata terpejam sedang tubuhnya basah karena air dari shower. Tunggulah sebentar lagi, Minami. Aku akan segera menepati jajiku, batin Kaoru. Matanya langsung berubah menjadi merah dan terlihat sangat dingin.



Continued in new chapter...











____________________________________________________________________
by: Amakusa Ryuu
READ MORE BLACK-WHITE FEATHERS "THE LAST ANGELICA PART 4 END "(Minami and Ryuuka)"

BLACK-WHITE FEATHERS "THE LAST ANGELICA PART 3 " (Neko Nekoma Nekomaru)"

-Flashback-

Ryuken yang masih mengincar Eikyuu no Hi, mendatangi kediaman Ryuuka. Karena gadis itu tidak mau menyerahkan Eikyuu no Hi akhirnya, pertarungan pun tak terelakan. Kaoru yang sudah tidak bisa lagi untuk bertarung karena kelelahan dan tubuhnya terluka parah sedang katana Ryuken sudah terarah keleher Ryuuka. Ryuuka terpaku. Dia tak tahu harus bagaimana. Sebenarnya ia tak tahu bentuk dari asli Eikyuu no Hi itu sendiri. Tapi, Kaoru bilang ia harus menjaganya dan melatihnya agar bisa menjaga gadis itu sendiri. Sekarang Ryuuka harus bagaimana?

“Aku takkan mengulangi lagi perkataanku tadi, serahkan Eikyuu no Hi padaku,” kata Ryuken dingin.
“Hmf! Takkan kuserahkan, dasar Angelordies aneh”
“Bodoh.”
Sebuah tepukan tangan mengalihkan perhatian mereka. Seorang Demonicart berambut pirang dan panjang berdiri tidak jauh dari mereka bertiga. “Ckckck, Ryuken, tak bisakah lembut sedikit pada seorang perempuan?” katanya.
“Sedang apa kau disini?”
“Hanya mengawasimu.”
Cantik sekali. Tapi, kenapa sayap itu berada dikepalanya? Tidak seperti yang lain, batin Ryuuka.
“Hhh~, kau membuat selera bertarungku hilang,” Ryuken melepaskan katananya dari leher gadis itu, “Hey, kau yang berwarna merah muda dan bermotif bunga-bunga. Bersyukurlah kau tak kubunuh kali ini.” Ryuken merebahkan sayap hitam-putihnya, angin kencang pun datang dan menelannya. Ia pergi.
Dia…, kenapa kaum seperti mereka senang sekali melihat hal seperti itu. Dasar mesum!, pikir Ryuuka. Demonicart itu berjalan mendekati Ryuuka, “Hello, Lady Amatsuki, namaku Bright XL” sapanya, “Berikan obat ini pada temanmu itu, jika dalam tiga hari tidak kau berikan. Ia akan mati.”
“Apa maksudmu?”
“Kau tak tahu, yah? Katana Ryuken itu ‘kan mengandung racun,” ia melemparkan sebotol kecil obat dan gadis itu pun menangkapnya, “Nice catch! Allright, I must go on. Adios amigos.” Bright pun menghilang ditelan angin hitam.
Bahasanya terlalu ‘berkilau’, aku sampai mual mendengarnya, pikir Ryuuka. Setangkai mawar putih pun ditinggalkan Bright. Sedang Kaoru yang sudah K.O hanya tertawa kecil.

Waktu menunujukan pukul 19.55, Kaoru sedang berdiri diambang jendela kamarnya sambil melihat langit malam. Sorot matanya terlihat sangat dingin dan kedua tangannya dilipat diatas dada. Sesosok bayangan hitam berdiri didekatnya. “Master, saya sudah mendapatkan informasi yang anda inginkan,” katanya.
“Apa itu?”
“Minami sudah saya temukan dan empat kon-nya lainnya sudah tewas dibunuh oleh anak buah Ryuken.”
“Bagaimana dengan dua kon lainnya?”
“Maaf, saya belum menemukan mereka, Master.”
“Secepatnya kau temukan mereka sebelum Ryuken dan anak buahnya menemukan mereka.”
“Baik!”
Bayangan hitam itu pun menghilang. Kaoru menghela napas dan mengembuskannya pelan, “Tunggu aku Minami, aku akan segera menjemputmu,” gumamnya. Ia pun merebahkan tubuhnya diatas futton dan menarik selimut sampai dada. Lambat laun ia mulai terlelap dan gelap malam mengiringinya ke alam mimpi.
Ryuuka yang mengintipnya dari balik pintu hanya bisa menelan ludah. Entah kenapa ia merasa sangat kesal. Masih pukul 8, cepat sekali dia tidur, batin Ryuuka. Saking kesalnya, ia sampai menggigit lidahnya sendiri. Sial.

SMA Mizuno, Tokyo, Jepang.
Waktu menunjukan pukul 20.10, Jyuu yang baru pulang dari minimarket bersama Karin, temannya, melewati sekolah mereka. Samar-samar terlihat cahaya merah dari belakang sekolah. Karena penasaran, Jyuu memanjat tembok dan ia pun berhasil masuk. Sedang Karin mengikutinya dari belakang.
Seorang Miko yang tangannya memegang sebuah tasbih, menatap tajam kearah seekor siluman. Siluman itu memiliki ekor dan telinga seperti kucing. Ia memegang kodachi-nya erat. Jyuu dan Karin melihat mereka dari jauh. Mata Karin terlihat sangat bersinar karena sedari tadi ia melihat kearah siluman kucing itu.
“Hhh~, maaf saja hari ini aku sedang tidak ingin bertarung melawanmu,” kata siluman itu.
“Kau, kau adalah siluman yang sulit sekali kutaklukan. Aku takkan pernah menyerah sebelum berhasil menyegelmu,” Miko itu semakin tajam menatapnya.
“Ah~, menyusahkan saja. Aku sedang buru-buru tahu. Sudahlah kau menyerah saja, lagipula kalau negara ini punya hukum tentang hak asasi siluman, kau pasti takkan bisa mengejarku lagi.”
“Hmf~, jangan berkata hal-hal yang bodoh,” Miko itu mengeluarkan satu buah kertas mantra dan mulutnya berkomat-kamit membaca mantra, “Keluarlah, Mizuchi!”
Kertas mantra itu kemudian mengeluarkan seekor naga yang sangat besar. “Mizuchi –Naga Air-, gawat!”
Sudah terlambat bagi siluman kucing itu untuk lari karena naga itu sudah membelit tubuhnya. Ia meringis kesakitan sedang Miko itu hanya tersenyum.
“Fuh~, jurusku akhirnya berhasil juga. Kau tahu, butuh waktu satu tahun untuk menyempurnakan jurus ini.”
“Ukh! Apa peduliku! Cepat lepaskan aku!!”
“Tidak,” ia berjalan mendekatinya, “Wah, wajahmu cukup tampan untuk ukuran seekor siluman. Ah, tapi, ini mungkin penyamaranmu. Siapa yang tahu wajah aslimu yang sebenarnya.”
“Ini memang wajahku yang sebenarnya!!”
“Yah terserahlah, sekarang tinggal tahap terakhir. Penyegelan.”
Miko itu berkomat-kamit membaca mantra yang sangat panjang sampai siluman itu bosan dibuatnya. “Hei, bisa dipercepat tidak?” tanya siluman itu.
“Diam! Kau membuatku harus mengulangi mantra yang super baget panjang itu!!”
“Eh? Ya, sudah, kau lanjutkan saja.”
Setelah selesai membaca mantra, naga itu kemudian berubah menjadi tali yang dipenuhi kertas mantra. Tali itu benar-benar mengekang seluruh tubuh siluman itu. “Sayaka, lepaskan aku.”
“Tidak!”
“Say…,”
Miko itu kemudian menjetikan jarinya, “…,Onara!”
Siluman itu sudah tak bergerak lagi. Sebuah batu dijadikan Sayaka tempat penyegelan dan ia melemparkannya ke sembarang arah. Batu itu hilang. “Selamat tinggal, Nekomaru. Kalau kau manusia, pasti kita berjodoh,” katanya sambil tertawa kecil, “Dan untuk kalian berdua, keluar sekarang dari balik pohon.”
Jyuu dan Karin langsung tersentak kaget. Dengan perlahan mereka keluar dari balik pohon. “Maaf, kalau kami megganggumu,” kata Karin.
“Tidak apa, lagipula ini tidak melibatkan kalian. Sekarang pulanglah, semakin malam semakin banyak siluan berkeliaran.”
“Ba, baik.”
Mereka pun keluar dari area sekolah dan pulang kerumah mereka masing-masing. Tapi, ditengah perjalanan pulang Karin malah membalik arah pulang menjadi arah kearah sekolah. Katanya ia mau mecari batu itu dan menyuruh Jyuu untuk tidak mengikutinya.
“Tapi, Karin,”
“Jyuu-kun, kau pulang saja. Aku ingin sendiri saja mencari batu itu.”
“Aku mengkhawatirkanmu, Karin. Aku takut kalau kau…,”
“Sssh, sudahlah. Kau pulang saja, aku takan apa-apa, kok. Percayalah.”
Sejenak Jyuu terdiam, “Baiklah, kalau itu maumu. Tapi, hati-hati, yah.”
“Ya,” Karin tersenyum hangat dan ia berlari karah sekolah. Sedang Jyuu hanya bisa menghela napas dan melangkah pulang.
“Ah, rasanya badan jadi segar setelah mandi.” Kaoru mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia mengambil sebotol jus di freezzer dikamarnya. Menatap keluar jendela dengan masih bertelanjang dada. “Bintang malam ini sangat indah,” gumamnya.
Ryuuka berjalan menaiki tangga sambil membawa nampan berisi makan malam. Akhir-akhir ini Kaoru jadi sering menyendiri dan sikapnya sedikit aneh. Ryuuka merasa aneh, tidak biasa Kaoru membiarkan pintu kamarnya terbuka walau hanya sedikit. Ia mengintip sedikit dan dilihatnya Kaoru yang bisa dibilang sedang berpose seksi –wah-.
Kaoru, apa yang dilakukannya? Bisa-bisa ia terserang flu, batin Ryuuka. “Apa yang sedang kakak lakukan,” tanya Jyuu sambil menepuk lengan Ryuuka.
BRAK!
Nampan yang dibawanya langsung jatuh kelantai dan piring berisi makan malam jatuh berserakan.
“Kyaa~,” teriak Ryuuka.
“Gwaa~,” teriak Kaoru.
Keduanya sama-sama kaget dan Kaoru malah membuka pintunya lebih lebar untuk melihat apa yang terjadi dibalik pintu kamarnya. “Apa yang kau…,” kalimat Kaoru langsung terhenti karena melihat Ryuuka memalingkan wajahnya yang sangat merah, “Maaf!” lanjutnya.
BLAM!!
Kaoru langsung menutup pintu kamarnya sedang Ryuuka langsung pergi menuruni tangga dan pergi kekamar mandi. Jyuu yang tinggal sendiri hanya meratapi nasibnya. Sambil menangis haru ia yang harus membereskan makanan yang tumpah itu.
Kaoru yang sedang berada di kamar mandi hanya bisa tertunduk diam dengan kedua tangan diatas washtafel. Hidungnya terus saja mengeluarkan darah. Keadaan yang sama juga Ryuuka alami, di dalam kamar mandi hidungnya terus saja mengeluarkan darah. Sebenarnya, apa yang baru saja kupikirkan? Dasar bodoh, batin mereka masing-masing.
Keesokan harinya, Ryuuka pergi bekerja seperti biasa sedang Kaoru tinggal dirumah membantu ibu Ryuuka, lebih tepatnya ia disebut pembantu rumah tangga. Di kafe, Ryuuka terlihat agak lesu tidak seperti biasanya. Hikaru yang memerhatikannya dari tadi hanya bisa menghela napas panjang.
“Ryuuka, sepertinya hari ini kau agak kurang sehat,” kata Hikaru, “Biar aku saja yang meng-handle semua pekerjaanmu.”
“Tidak perlu, Hikaru. Aku baik-baik saja, hanya kurang semangat saja.”
“Kalau begitu, kau istirahatlah dulu sebentar.”
“I, iya, terimakasih.”
Kaoru berjalan kearah pantry dan wajahnya ia telungkupkan diatas meja. Seorang temannya yang juga maid seperti Ryuuka bertanya kepadanya, “Apa kau ada masalah, Ryuuka-chan?”
“Tidak,” jawabnya singkat.
Sejak pagi tubuhnya terasa sangat berat dan rasanya ia ingin tidur saja. Matanya mulai menutup dan ia pun tertidur.

“Good afternoon, Ryuken,” sapa Bright, “What’s up?!”
“Kau, apa yang kau lakukan disini?”
“Fu fu fu, hanya melihat keadaanmu saja,” dalam sekejap ia sudah ada disamping Ryuken, “Bagaimana hubunganmu dengan teman manusiamu itu?”
“Apa maksudmu? Kami ‘kan tidak melakukan apa-apa.”
S I I I I I I I I N N N G ! !
“Jadi, kau belum melakukan apapun padanya!?” nada suara Bright sedikit dinaikan, “Apa yang selama ini kau lakukan?!”
“Tidak ada. Kami hanya tinggal bersama dan melakukan hal yang biasa saja.”
Seorang gadis berpakaian sailor masuk ke dalam rumah seraya mengucap salam, “Ryuken-sama, saya pulang.”
“-sama, jadi, gadis itu yang jadi budakmu?” tanya Bright.
“Ya.”
Ternyata, Ryuken benar-benar Angelordies yang egois. Sudah sikapnya sangat sombong, angkuh dan senang memanfaatkan orang lain. Terlebih, ia tak suka diperintah, tak heran para Demonicart yang dulu jadi pengawasnya langsung gila karena tak tahan menghadapinya. Apa aku juga akan bernasib seperti itu?, pikir Bright.
“Yukino, aku lapar, siapkan makan siang,” titah Ryuken.
“Baik, Ryuken-sama,”
Yukino pun langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Ryuuken, sedang Bright hanya menggelengkan kepalanya. “Hei, kau. Setidaknya pakai kata ‘tolong’, tolong siapkan makan siang untukku,” katanya.
“Aku malas.”
“Hhh~, dasar kau ini.”

Malam ini hujan turun sangat deras. Terkesan agak aneh karena bulan ini masih pertengahan bulan Juni yang seharusnya musim panas. Dari balik jendela, Kaoru menatap lurus keluar mengamati jalanan yang yang basah. Sesosok bayangan hitam kembali muncul dihadapannya sambil merendahkan badannya.
“Apa yang kau dapat?” tanya Kaoru.
“Maaf, Master. Sebenarnya, saya datang membawakan kabar buruk untuk, Master.”
“Kabar buruk?”
“Bulu-bulu sayap Minami sudah mulai lepas dan jika ini dibiarkan terus, ia akan benar-benar menghilang. Saat ini Nekoma sedang merawatnya.”
Kaoru terdiam sejenak, tangannya ia letakan dibawah dagunya, “Apa kau sudah menemukan dua kon lainnya?”
“Sayangnya belum saya temukan. Maafkan saya, Master.”
“Aku mohon kau cepat kau temukan dua kon lainnya. Aku tak mau Minami menghilang.”
“Baik.”
“Ah, ya! Tolong sampaikan ini padanya,” Kaoru mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam saku celananya, “Dan juga tolong sampaikan salamku untuknya,”
“Baik, Master. Ada yang lain?”
“Tidak. Kau laksanakan saja tugasmu, Nekomaru.”
“Baik.”
Dua buah telinga kucing keluar dari diatas kepala Nekomaru dan ekor kucingnya juga keluar. Wajahnya yang babyface membuatnya semakin lucu dengan telinga dan ekor kucingnya itu. Ia membungkukan badannya dan ketika ia hendak pergi, tangannya dicengkeram Kaoru.
“Ada apa, Master?”
“Terimakasih kau sudah membantuku dan jika tugas ini sudah selesai, jagalah majikanmu yang baru baik-baik. Sampaikan maafku karena telah merebutmu untuk sementara ini.”
Ia hanya tersenyum tipis, “Master tidak usah berterimaksih karena bantuan saya tidak seberapa dibanding dengan pengorbanan Master untuk saya dan adik saya. Lagipula, majikan saya pasti mengerti.”
“Nekomaru, kau memang temanku yang paling baik,” kata Kaoru sambil menepuk-nepuk bahu Nekomaru. “Holy White Mother selalu menyertai keselamatanmu. Selamat bertarung dengan hujan.”
“Master~, jangan berkata seperti itu,” wajahnya langsung berubah masam, “Saya ‘kan tidak begitu suka dengan air.”
“Khe khe khe, maaf, yah, Nekomaru,” Kaoru tersenyum jahil, “Ya sudah, kau lanjutkan kembali misimu. Aku menunggu kabar selanjutnya. Hati-hati, Nekomaru. Jangan sampai tertangkap Miko lagi, yah.”
Nekomaru hanya mengangguk dan ia pun pergi dalam kegelapan. Kaoru pun menarik gorden jendelanya dan cahaya lampu jalan tak bisa menembus kekamarnya. Dalam hati ia berdoa agar misi Nekomaru berhasil. Ia tak ingin jika Minami menghilang. Sangat tak ingin dan ia ingin menepati janjinya dengan gadis itu. Janjinya itu…









____________________________________________________________________
by: Amakusa Ryuu


READ MORE BLACK-WHITE FEATHERS "THE LAST ANGELICA PART 3 " (Neko Nekoma Nekomaru)"

Kamis, 05 November 2009

BLACK-WHITE FEATHERS "THE LAST ANGELICA PART 2" ( The White Feather)

“Jadi, ini rasanya menjadi manusia? Cukup menarik,” gumam seorang Demonicart. Kedua tangannya disimpan dibelakang punggungnya. Ia menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. “Udara yang segar.”
“Tuan Nachtcross, anda baik-baik saja?” tanya seorang Angelordies betina.
Ia tersenyum lembut, “Alice, mulai sekarang namaku Ryou Himura.”
“Euh?”
Nachtcross mendekatkan wajahnya ke hadapan Alice, “Kita harus berbaur dengan mereka, bukan?”
“Iya, lalu?”
“Aku…, pergi dulu, yah!” Nachtross mengambil langkah seribu dan ia sudah menghilang ditengah ramainya kota Tokyo. Alice hanya bisa melongo. Apa maksudnya ini?
“Tu, Tuan Nachtcross, kenapa anda pergi begitu saja?” wajah Alice langsung berubah pucat. Ia tak tahu harus bagaimana. “Sekarang aku harus bagaimana?”
HYUUSH!

Rumah Sakit Shirohime, Tokyo, Jepang.
Seperti yang tadi siang Kaoru janjikan pada Ryuuka, sore ini ia datang menjenguknya di rumah sakit. Ia membawakan sekeranjang buah-buahan dan satu bucket bunga lili putih.
KNOCK! KNOCK! KNOCK!
“Ya, silakan masuk,” katanya sambil membaca sebuah majalah.
Wajah Kaoru menyembul dari balik pintu dan ia tersenyum hangat. “Kau sudah lebih baik?”
“Ya, lumayan.”
Kaoru duduk disamping ranjang Ryuuka. Dia mulai bercanda ringan sampai pada akhirnya ia menceritakan tentang kejadian kemarin malam. Sebenarnya, Hikarulah yang berhasil menghentikan amukan kemarahan Ryuuka. Ditengah kacaunya keadaan saat itu, Hikaru bangun dari pingsannya. Ia memegang tangan Ryuuka dengan gemetar. Ketika itu tak ada satupun yang berani mendekat karena setiap ada yang mendekat, api hitam itu akan melalapnya sampai tak bersisa. Seperti halnya Vittomio yang habis dilalap api hitam itu.
Hikaru yang berada dalam lingkaran api itu tak bisa berbuat banyak karena tangan kanannya patah. Wajahnya terlihat sangat sedih dan dia menggeleng pelan pada Ryuuka. “Ryuuka atau siapapun kau, tolong hentikan semua ini. Jangan sampai ada yang terluka,” Hikaru tersenyum lembut, “Sebab, jika ada yang terluka, orang yang menyayanginya juga akan ikut terluka. Jadi, tolong hentikan semua ini. Aku mohon.”
Dengan kaki gemetar Hikaru mencoba untuk berdiri dan mencengkeram erat lengan Ryuuka. “Ayo, kita pulang.” Kesadarannya mulai hilang dan ia pun jatuh dalam pelukan gadis itu. Perlahan api mulai padam dan Naga Api itu pun menghilang. Pertokoan yang terbakarpun kembali seperti semula. Sayap dipunggung Ryuuka pun menghilang.
“Wah, menarik sekali. Yah, mungkin sampai disini dulu,” kata Ryuken tenang.
“Kau mau pergi begitu saja, Ryuken?” tanya Kaoru.
“Hmf! Gadis itu cukup menarik. Aku jadi tak berniat menghabisinya untuk kali ini.”
Kaoru membuka perlahan sarung katananya, “Kali ini? Apa ada kesempatan kedua kalinya untukmu?,” ia langsung menghunuskan pedangnya namun Ryuken hentikan dengan kedua jarinya.
“Ckckck, kau ini bernafsu sekali membunuhku, Kaoru,” matanya menatap tajam Kaoru, “Sampai nanti.”
Ryuken pun menghilang dan ia membebaskan mereka dalam dunia ilusinya. Keadaan menjadi normal kembali. Ryuuka dan Hikaru yang terluka cukup parah langsung ia larikan ke rumah sakit terdekat.
“Begitu, yah. Aku mengerti, sekali lagi aku ucapkan terimakasih,” Ryuuka tertunduk dalam. “Shirokusa-san, ada yang ingin kutanyakan padamu?”
Kaoru terdiam sejenak, “Apa itu?”
“Sebenarnya siapa kau ini dan apa yang diinginkan lelaki bernama Ryuken itu?”
“Hal itu tak bisa kujelaskan sekarang tapi, aku berjanji akan menceritakannya suatu saat nanti.”
Ryuuka mengepalkan kedua tangannya dan ia mengangkat wajahnya. airmatanya berlinang, “Kenapa tak bisa?! Kau tahu, sebelum kedatangan kalian hidupku tenang-tenang saja tapi, setelah kejadian kemarin pasti akan timbul masalah lain yang akan melibatkan yang lain.”
“Ryuuka~, maaf kalau…,”
“Akh! Kau hanya orang asing yang melibatkan orang lain dalam masalahmu, lalu bagaimana kalau teman dan keluargaku juga terlibat?! Apa kau bisa bertanggungjawab?!!”
“Ryuuka, aku,”
“Jangan bicara lagi!”
GREB!
Kaoru langsung memeluk Ryuuka dengan lembut, bibirnya ia dekatkan ketelinga gadis itu, “Maaf, kalau aku melibatkanmu tapi asal kau tahu, kami membutuhkanmu. Kau adalah Angelica terakhir dan kau memiliki Eikyuu no Hi. Aku mohon agar kau mau membantu kami.”
“Aku tak mengerti maksudmu?”
“Lambat laun kau akan tahu siapa dirimu,” Kaoru melepaskan pelukannya dan tersenyum pada gadis itu, “Jadi, kau mau membantu kami?”
“Aku, aku akan mencoba membantu semampuku.”
“Terimakasih,” Kaoru melihat arlojinya, “Sudah waktunya aku untuk pergi. Sampai nanti?”
“Ya, sampai nanti.”
Setelah Kaoru pergi, Ryuuka baru menyadari sesuatu. “Dia bilang ‘kami’? Apa maksudnya? Apa mereka sekumpulan orang-orang bersayap seperti Shirokusa?,” gumamnya.
Setelah tiga hari berada di rumah sakit, Ryuuka dan Hikaru sudah diperbolehkan untuk pulang
Sesampainya dirumah, Ryuuka dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang ia kenal. “Kenapa kau bisa ada dirumahku?!” katanya sambil menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya. Lelaki itu hanya tersenyum.
“Yoo~, Ryuuka.”
GUBRAK!!
Rasanya ia baru saja ditimpa batu yang sangat besar. Kenapa dia harus ada disini? Sudah cukup ia membuatnya susah dengan kejadian itu, pikirnya. “Ibu, kenapa dia berada disini?”
“Ryuuka, orang yang malang.”
Orang yang malang? Bagian mana?
“Kak, benar apa yang dikatakan ibu. Kita menemukannya dalam keadaan kelaparan didepan rumah kita. Kan, kasihan,” tambah Jyuu, adik lelakinya.
Dasar mereka memang terlalu polos! Bisa timbul banyak masalah kalau dia ada disini, batin Ryuuka.
“Nah, Kaoru. Untuk sementara waktu, kau bisa menempati kamar mendiang kakakku,” kata Sumika, ibu Ryuuka.
“Tinggal?!”
“Iya, untuk sementara waktu dia akan tinggal dirumah kita. Kasihan rumahnya habis terbakar dan dia tak memiliki sanak saudara.”
Sumika dan Jyuu pun mulai menitikan airmata, “Kasihan sekali.”
Licik! Padahal baru bertemu tiga hari tapi dia sudah berani memanfaatkan keluargaku. Dia bisa saja bohong soal rumahnya yang terbakar. Kaoru Shirokusa, kau memang setan pengganggu.
Hari-hari Ryuuka yang dulu tenang-tenang saja, sekarang berubah menjadi menjadi bencana baginya. Karena, hampir setiap hari ia harus berurusan dengan makhluk bernama Angelordies. ”Aku lelah kalau harus terus seperti ini. Kapan aku bisa kembali ke kehidupanku semula?”
“Bersabarlah. Kau harus melatih kekuatan Eikyuu no Hi-mu.”
“Akh~, aku bosan mendengarmu berkata ‘Eikyuu no Hi’ terus. Lagipula, aku tidak tahu siapa kau. Jadi, untuk apa aku harus menurutimu?”
Kaoru terdiam cukup lama dan wajahnya tenggelam dalam tunduknya yang dalam. Ryuuka langsung merasa sedikit segan padanya. “Kau ingin tahu siapa diriku?” Kaoru langsung mencengkeram tangan Ryuuka dan membawanya kebelakang rumah. Dia membuka kaosnya dan sebuah tato burung Phoenix terlihat jelas dibalik punggungnya, “Kau pasti sudah mengenal tato ini.”
“Ah! Aku tahu, kau pasti anggota gangster, kan?!”
GUBRAK!
“Bukan itu maksudku! Aku adalah seorang Angelicus dari Holy White Mother. Masa kau sudah lupa?!”
D O O O O O O N G ! !
“Aku tak tahu.”
“Hhh~, kau memang mirip dengannya.”
“Siapa?”
“Minami.”
Ryuuka melongo. Kaoru menghela napas panjang dan membuka mulutnya untuk bercerita. Sebenarnya Kaoru adalah seorang Angelicus yang diutus untuk mencari Angelica terakhir. Dia mencari Angelica yang terakhir sudah hampir lima ratus tahun.
Lima ratus sebelumnya terlah terjadi perang besar antara Asphodel dan Ellysium. Raja Asphodel, Ankoku-sama, dia menginginkan semua penghuni Ellysium tunduk padanya dan Ellysium bersatu dengan Asphodel. Christoper-sama –Pemimpin Ellysium- menentang keras keinginan Ankoku-sama. Karena, jika Ellysium dan Asphodel bersatu maka dunia manusia akan hancur. Dunia manusia yang menjadi portal pemisah antara Ellysium dan Asphodel merupakan titik netral yang tidak bisa begitu saja dihancurkan.
Ankoku-sama yang marah besar langsung melancarkan serangan besar-besaran ke Ellysium. Dunia manusia sempat terguncang karena perang besar itu. Christoper-sama yang sudah memprediksi serangan ini, langsung mengerahkan pasukan Angelic Guardian untuk menghalau serangan para Demonicart. Ketika itu Angelordies berada dipihak Ellysium dan kemengan sudah didepan mata. Namun, kemenagan itu hanya ilusi semata. Para Angelordies itu berkhianat, mereka menyerang balik pasukan Angelic Guardian. Para Angelicus dan Angelica yang berada digaris belakang langsung menyerang dengan anak panah mereka.
Perang berakhir dengan kemenangan Ellysium. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak, helaian bulu hitam dan putih tersebar diseluruh penjuru medan perang. Darah merah dan hitam juga mewarnai area tersebut. Christoper-sama mencabut satu helai bulu dari sayap putihnya. Bulu itu berwara keperakan dan beliau melemparkannya keatas setinggi-tingginya. Beliau menyatukan kedua tangannya dan mengepalnya, “Pure White Mother, damailah dan tenang dalam tidur panjang kalian. Suci.” Ribuan mayat para Demonicart, Angelica dan para Angelicus langsung mengilang digantikan dengan sehelai bulu putih. Christoper-sama menjatuhkan bulu putih itu ke dunia manusia. Tidak ada yang tahu bulu biru itu ada dimana. Hanya Christoper-sama yang mengetahuinya.
“Bohong,” kata Ryuuka datar.
“Euh?”
“Kau bohong, mana mungkin ada manusia yang bisa hidup lebih dari lima ratus tahun.”
“Ryuuka, aku ‘kan bukan manusia tapi Angelicus.”
“Hhh~, baiklah aku percaya.”
WUUSH!
Angin yang cukup kuat menerpa mereka berdua. “Merah muda motif bunga-bunga,” gumam Kaoru.
“Kau…,”
BLETAK!
Sebuah pukulan keras mendarat dikepala Kaoru. “Kalian akrab sekali,” kata Ryuken dengan santainya.
Lagi-lagi Si Bodoh itu datang, batin Ryuuka. “Ryuken, apa maumu?”
“Seperti biasa, serahkan Eikyuu no Hi padaku.”
Ryuuka mengangkat katananya, “Coba saja kalau kau bisa, Ryuken,”
Dua lawan satu. Bukan hal sulit bagi Ryuken yang sudah berpengalaman dalam bertarung. Karena Ryuuka belum begitu mahir dalam memainkan pedangnya, Kaoru jadi harus kerja dua kali lipat. Lebih baik kau tidak usah bertarung saja, Ryuuka, pikir Kaoru.
SETH!
Sabetan katana Ryuken berhasil mengenai lengan Ryuuka. Gadis itu meringis kesakitan. “Sial,” umpatnya. Sedang Kaoru sudah tak berdaya karena kelelahan dan terlebih ia menerima cukup banyak sabetan karena katana Ryuken. Mata katana Ryuken ia arahkan keleher gadis itu. “Serahkan Eikyuu no Hi itu padaku, sekarang.”
Ryuuka terpaku. Dia harus tak tahu bagaimana. Sebenarnya ia tak bentuk dari asli Eikyuu no Hi itu sendiri. Tapi, Kaoru bilang ia harus menjaganya dan melatihnya agar bisa menjaga gadis itu sendiri. Sekarang Ryuuka harus bagaimana?



____________________________________________________________________
by: Amakusa Ryuu
READ MORE BLACK-WHITE FEATHERS "THE LAST ANGELICA PART 2" ( The White Feather)