Halaman

TRANSLATE

Selasa, 28 Juni 2011

The Lost Princess -Chapter 5-

Kesepian dan kesendirian adalah hal yang paling ditakutinya. Ketika seseorang yang paling berharga yang telah menemaninya selama ini pergi begitu saja, apa lagi yang bisa menjadi sandaran hidupnya? Apa lagi yang bisa menjadi alasannya untuk terus hidup? Hanya untuk dibenci dan dibuang oleh semua orang? Hanya untuk dipandang remeh oleh mata-mata di sekitarnya? Hanya untuk menangisi dan meratapi dirinya yang hadir di dunia ini? Makna hidup seakan lenyap dan hilang. Kini hal yang paling ditakutinya telah menghampiri hidupnya. Kesepian. Sendiri…

“Nee, Shouko? Mulai saat ini kau akan menjadi temanku! Jangan bersedih lagi, kau sekarang sudah tidak sendiri. Ada aku yang akan menemanimu bermain. Hiromu dan Yuuta juga akan bermain bersama kita! Jangan menangis lagi, ya…”

-Chapter 5-

“Damon!” Chazz segera bangkit terduduk setelah sadar dari pingsannya. Ia mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan. Gadis itu tidak tahu dimana ia berada sekarang. Yang ia ingat hanya seorang gadis yang menyebutkan nama kakaknya dan seorang pemuda berambut perak yang datang menyusul gadis tersebut sebelum ia jatuh pingsan. Chazz memegang keningnya, kepalanya sudah dibalut perban dengan rapi. Katana miliknya tersimpan baik di atas meja yang berada di sebelah kanan ranjang tempat ia berbaring sekarang. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu kecuali dirinya yang hanya ditemani oleh alunan musik yang menenangkan dari sebuah radio.
Beberapa menit ia terdiam, Valeriana masuk ke dalam kamar itu dengan sebuah nampan berisi semangkuk bubur di tangannya.
“Oh, kau sudah bangun ya? Bagaimana kepalamu? Apa terasa sakit?” tanya Valeriana seraya meletakkan mangkuk bubur yang dibawanya ke atas meja lalu duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Chazz. Tapi Chazz hanya diam menatap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan tidak mempedulikan atau menoleh pada Valeriana sedikit pun.
“Apa kau baik-baik saja?” Valeriana bertanya sekali lagi. Namun Chazz tetap diam dan tidak menjawabnya.
“Kau… menyebutkan nama Damon.” suara Chazz akhirnya keluar. Valeriana memperhatikan tatapan sendu dari mata beriris kuning madu milik gadis di depannya itu.
“Ya, Damon adalah tangan kanan ayahku.” Valeriana menjawab dan menatap wajah yang tak terasa asing di depannya itu.
“Ceritakan lebih banyak.” Chazz berkata lagi tanpa sedikitpun memindahkan tatapannya. Valeriana tersenyum, sepertinya ia mulai mengerti akan keadaan yang sedang terjadi.
“Damon memiliki warna mata yang sama denganmu. Tatapannya tajam, tapi lembut. Rambutnya juga hitam sepertimu. Terkadang ia bersikap seperti pengawalku, tapi aku selalu sengaja membuatnya kewalahan. Ia selalu mengatakan kalau sifat manjaku yang suka seenaknya sangat mirip dengan seseorang.” Valeriana membetulkan posisi duduknya lalu melanjutkan lagi ceritanya. “Aku pertama kali bertemu dengannya tujuh tahun yang lalu. Ia terluka parah saat ayahku menemukannya. Tapi ia berhasil diselamatkan. Saat ia sadar, aku yang saat itu masih berumur sebelas tahun langsung menanyakan namanya tanpa mempedulikan apakah ia sudah kuat untuk berbicara atau belum. Tapi dia tetap tersenyum dan menjawabnya…” Valeriana menatap mata Chazz yang mulai berair. “…namanya adalah Damon Wheeler.”
Air mata segera mengalir di pipi Chazz. Dadanya merasakan suatu kelegaan mendengar nama orang yang ia kira telah mati itu disebut. Selama tujuh tahun ini, ia selalu hidup dalam perasaan dendam dan rasa bersalah karena kematian keluarganya. Ia selalu hidup dalam penyesalan, andaikan ia bisa berlari lebih cepat dan mampu menggapai tangan kakaknya sebelum ia jatuh. Ia selalu dihantui oleh bayangan kematian mereka. Selalu merasa kehilangan saat ia menatap tas gitar milik Damon yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi. Satu-satunya benda peninggalannya yang sangat ia sayangi yang sekarang tidak ia ketahui keberadaannya. Kini setelah ia mendengar bahwa Damon masih hidup, rasanya sangat sulit untuk mempercayainya setelah sekian lama ia hidup seperti itu. Rasanya benar-benar melegakan dan membuatnya rela mengorbankan apa pun agar tidak kehilangannya lagi.
Valeriana memperhatikan tiap tetesan air mata Chazz yang jatuh membasahi selimut yang ia pakai. Ia pun mengambil tangan Chazz dan menggenggamnya dengan lembut. Gadis Wheeler itu akhirnya menoleh pada Valeriana yang sedang tersenyum menatapnya.
“Lalu, siapa namamu?” tanya Valeriana. Chazz pun membalas tatapan Valeriana.
“Namaku…” gadis berambut hitam itu sedikit terisak saat ia mengeluarkan suaranya. “…Chazz Wheeler.” ucap Chazz dengan suara bergetar. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Valeriana. Berusaha menahan isak tangisnya walaupun wajahnya sudah sembab oleh air mata. Valeriana tersenyum dan mengusap pipi Chazz untuk menghapus air matanya dengan tangan kirinya.
“Salam kenal, Chazz.”

***

“Haaah~ Valeriana tega sekali membuatku berjalan sejauh ini untuk membeli perban. Padahal aku lihat di kotak obatnya masih ada perban yang cukup untuk anak itu.” gerutu Yuuta mengeluh sepanjang perjalanan menuju kota. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari sebuah toko obat. Belum berapa lama ia berjalan menyusuri kota itu, mata silvernya sudah menangkap sosok seseorang yang pernah ia temui sebelumnya, berjubah hitam dengan tudungnya menutupi kepala. Dengan langkah cepat Yuuta menghampiri sosok itu dan menepuk punggungnya.
“Yo, Shouko!” sapa Yuuta dengan suaranya yang selalu terdengar riang. Sedangkan gadis berambut coklat yang menunduk berusaha menutupi warna matanya dengan tudung yang ia kenakan, terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Yuuta. Ia melirik ke arah Yuuta dengan hati-hati dan mendesah lega ketika memastikan bahwa orang yang ada di hadapannya ini adalah teman kecilnya.
“Yuuta!” mata ruby Shouko memandang wajah Yuuta dengan senang. Namun ia segera menunduk lagi karena takut orang-orang di sekitarnya melihat mata khas wizardnya. Yuuta yang menyadarinya kemudian mengeluarkan sebuah kacamata hitam dari saku celananya dan dengan cepat memakaikannya ke Shouko.
“Dengan begini kau tidak perlu takut lagi.” kata Yuuta sambil melepaskan tudung yang menutupi kepala Shouko. Kini gadis itu terlihat lebih baik dengan rambut lurusnya yang panjang menjuntai di bahunya. Namun wajah Shouko justru terlihat kesal dan tidak menyukainya.
“Kau kan tahu aku tidak suka kacamata.” ucapnya ketus membuang muka. Yuuta hanya tertawa kecil karena ia sudah menduga reaksi Shouko yang seperti ini.
“Sudahlah, khusus untuk hari ini saja mumpung kita bertemu. Ayo ikut aku! Kebetulan aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!” tanpa menunggu jawaban dari Shouko, Yuuta langsung menarik tangan gadis itu. Sedangkan Shouko menggumam kesal karena sikap Yuuta yang seenaknya, namun pipinya sedikit merona ketika menatap tangannya yang digenggam oleh pemuda berambut perak itu.
Yuuta membawa Shouko ke sebuah café kecil dan memesankan segelas chocolate milkshake untuk gadis itu. Shouko sedikit senang saat ia tahu Yuuta masih mengingat minuman kesukaannya itu.
“Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan?” tanya Shouko masih bernada ketus yang membuat Yuuta kembali tertawa geli mengingat perlakuan gadis itu padanya yang tak pernah berubah. Yuuta mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyodorkannya ke depan Shouko.
“Aku ingin tahu pendapatmu tentang gelang yang kubuat kali ini.” sahut Yuuta sambil meneguk minumannya. Shouko menatap kotak yang kini berada di depannya dan kemudian membukanya. Di dalam kotak itu terdapat sebuah gelang cantik yang terbuat dari emas. Kepingan-kepingan kecil berbentuk daun maple menghiasi sekeliling gelang itu. Cantik sekali. Shouko tersenyum. Daun maple memang sudah menjadi bagian dari ciri khas Yuuta. Sejak dulu, pemuda itu selalu dikenal sebagai pembuat pedang yang handal. Namun entah sejak kapan ia mulai belajar membuat perhiasan seperti cincin dan atau gelang. Ia jadi ingat dulu Yuuta pernah memberikan sebuah gelang perak yang juga berukiran daun maple pada Valeriana. Pemuda itu memang sudah menyukai sahabatnya yang memiliki mata biru indah itu sejak kecil. Yuuta menyukai Valeriana. Shouko tahu itu hanya dengan melihat tatapan Yuuta yang melembut ketika menatap Valeriana. Dan pemuda itu tidak tahu kalau Shouko juga sudah menyukainya sejak mereka pertama kali bertemu. Bahkan ketika mereka sudah berpisah selama tiga tahun pun gadis itu masih memendam perasaan yang sama. Saat mereka bertemu lagi beberapa hari yang lalu, Shouko tidak tahu harus menjelaskan apa pada pemuda itu. Ia takut Yuuta tahu tentang apa yang sudah diperbuatnya pada Valeriana dan Hiromu. Ia takut Yuuta membencinya. Terlebih saat Yuuta mengatakan kalau ia sedang bersama Valeriana yang entah kenapa seperti hilang ingatan. Tapi ia bersyukur karena Yuuta sama sekali tidak mencurigainya, pemuda itu hanya berkata kalau ia akan menemani perjalanan Valeriana walaupun gadis itu tidak mengingatnya.
Perlahan senyum Shouko memudar. Ah, tentu saja. Yuuta tahu kalau Valeriana saat ini juga tidak mengingat Hiromu sama sekali. Ia pasti akan berusaha mendekati Valeriana lagi. Dan gelang ini pasti dibuat untuk Valeriana, sama seperti saat Yuuta meminta pendapatnya tentang gelang perak waktu itu sebelum diberikan pada Valeriana.
Shouko kembali menutup kotak itu dengan keras.
“Bagus.” sahutnya singkat dengan sikap acuh tak acuh lalu meminum milkshakenya. Yuuta memperhatikan raut wajah Shouko yang mulai berubah tidak senang.
“Kau tidak suka ya?” tanya Yuuta dengan sedikit kecewa melihat reaksi Shouko.
“Apa hubungannya aku suka atau tidak? Berikan saja gelang itu padanya, dia pasti suka.” jawab Shouko menghindari tatapan mata Yuuta.
“Eh? Dia siapa maksudmu?” tanya Yuuta lagi dengan bingung.
“Tentu saja Valeriana! Kau membuatnya untuk dia kan?” Yuuta terbengong mendengar perkataan Shouko. Setelah beberapa detik kemudian pemuda itu langsung tertawa terbahak-bahak, membuat gadis di depannya bertambah sebal.
“Apa yang lucu?!” kata Shouko dengan kesal. Yuuta mengambil kotak gelang tadi dan menyodorkannya tepat di depan wajah Shouko.
“Darimana kau berpikiran seperti itu? Aku membuat gelang ini untukmu kok.” ujar Yuuta tersenyum pada gadis itu. Melihat Shouko yang tidak bereaksi apapun dan malah terdiam seperti patung, Yuuta mengeluarkan gelang tersebut dari kotaknya dan menarik pergelangan tangan Shouko. Ia lalu memakaikan gelang maple emas itu ke tangan Shouko yang masih terdiam.
“Tak peduli kau suka atau tidak, kau harus memakainya karena aku sudah membuat ini dengan susah payah.” ucap Yuuta. Shouko tertegun memandang gelang emas yang sudah melingkari pergelangan tangannya itu.
“Kukira kau membuatnya untuk Valeriana. Gelang perak yang dulu juga…” kata Shouko dengan suara kecil tapi bisa didengar oleh Yuuta.
“Gelang perak itu ya? Itu kan Hiromu yang memesannya karena ingin ia hadiahkan pada Valeriana. Kalau dipikir-pikir, waktu itu Hiromu adalah pelanggan pertama ku makanya aku minta pendapatmu.” kata Yuuta mengingat-ingat masa itu. “Ngomong-ngomong soal Hiromu, sebenarnya dia kemana sih? Tiga tahun tidak bertemu ternyata malah berpencar seperti ini. Kukira kau tetap tinggal bersama mereka setelah aku pergi. Valeriana malah hilang ingatan dan kabur dari rumah. Kan tidak mungkin aku meninggalkannya bepergian sendirian seperti itu. Pasangan itu benar-benar membuatku cemas.”
Shouko terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Andai Yuuta tahu kalau itu semua adalah perbuatannya, apa yang akan ia lakukan?

***

Valeriana menutup pintu kamar penginapan itu dengan pelan. Ia ingin menghirup udara segar dan berjalan-jalan sebentar, membiarkan gadis Wheeler itu sendiri agar bisa beristirahat dengan tenang. Ia berjalan menuruni tangga dan melihat suasana restoran yang agak sepi. Matanya terhenti memandang kursi kosong yang berada di pojok ruangan, tempat dimana terakhir kali ia melihat Hiromu.
‘Apa ia juga berada di penginapan ini ya?’ Valeriana bertanya dalam hati dengan sedikit berharap. Tanpa sadar ia berjalan ke kursi tersebut dan duduk disana. Ia berpangku tangan dan memandang pemandangan di luar jendela yang hanya memamerkan langit biru yang kosong.
‘Apanya yang menarik dari pemandangan ini? Kenapa ia terus menerus melihat keluar? Atau ia sedang melamun memikirkan masalahnya?’ pertanyaan terus muncul di kepalanya sampai tiba-tiba secangkir teh yang disuguhkan ke hadapannya merusak lamunannya.
“Ini tehnya, nona. Silakan diminum.” Valeriana terheran melihat teh di depannya ini. Padahal ia kan belum memesan apa-apa? Gadis itu segera menoleh pada si pelayan yang membawakannya teh itu.
“Maaf, tapi aku tidak memesan in-” namun bukan sosok seorang pelayan yang ia temui, melainkan sosok Hiromu yang mengenakan kemeja berwarna biru tua dengan secangkir teh lainnya di tangan kanannya. Ia tersenyum melihat rona merah tipis sudah menjalar di pipi Valeriana. Bahkan saat gadis itu telah kehilangan ingatan tentang dirinya, wajahnya masih tetap merona bila bertemu dengannya. Hiromu segera duduk berhadapan dengan Valeriana, masih dengan senyumnya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia dengan tenang mengangkat cangkirnya dan meminum teh miliknya, membiarkan Valeriana yang masih sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“A-ah, itu… ma-maksudku…” Valeriana tidak tahu harus mengatakan apa, tiba-tiba ia merasa begitu gugup saat orang yang sedang dipikirkannya tadi muncul seperti ini. Hiromu tertawa kecil, membuat wajah Valeriana semakin memerah. Sepertinya ia selalu terlihat memalukan bila berhadapan dengan pemuda ini.
“Kalau tidak segera diminum, tehnya akan dingin.” ucap Hiromu meletakkan cangkirnya lagi, kemudian menatap pemandangan kosong di luar jendela.
“Terima kasih…” kata Valeriana dengan ragu, kemudian melirik pemuda pirang itu. Lagi-lagi seperti itu. Mata birunya jadi terlihat redup. Gadis itu jadi teringat dengan apa yang dilihatnya kemarin itu. Apa warna matanya waktu itu benar-benar berubah menjadi merah? Atau hanya perasaannya saja?
“Hei hei, apa kau dengar? Katanya putri Foliery belum kembali juga.” Suara seorang pria yang duduk beberapa meja dari Valeriana telah menyita perhatiannya sekarang. Pria itu berbicara pada temannya yang sedang melahap makanannya. Valeriana lupa kalau saat ini ia sedang melarikan diri dari rumah dan sudah pasti akan jadi perbincangan orang banyak.
“Oh ya? Jangan-jangan ia sudah mati?” celetuk temannya itu.
“Hei! Jangan bicara sembarangan kau.”
“Mungkin saja, dia kan mewarisi kekuatan itu.”
“Tapi kuharap dia baik-baik saja. Putri itu orang yang sangat baik.”
“Aku jadi penasaran kenapa dia bisa kabur.” Valeriana menundukkan wajahnya semakin dalam. Ia sudah tahu kalau orang-orang pasti akan membicarakan hal itu. Kekuatannya. Gadis itu membetulkan posisi kacamatanya, berharap tidak ada seorang pun mengenalinya. Seorang pun. Valeriana dengan cepat melihat Hiromu yang masih asyik dengan lamunan dunia luarnya. Apakah Hiromu mendengar pembicaraan orang-orang itu? Apakah Hiromu tahu kalau ia ini sebenarnya adalah Valeriana Foliery? Gadis itu menatap Hiromu dengan cemas.
“Sayang sekali ya Putri itu.” Pria itu kembali bersuara.
“Padahal berita terakhir yang kudengar, ia sudah bertunangan.” Hiromu tersentak. Valeriana pun langsung menoleh pada kedua pria yang sedang berbincang-bincang itu. Gadis itu tidak mempercayai pendengarannya. Apa itu? Bertunangan? Sepertinya ia belum pernah mendengar berita itu. Kapan dirinya pernah bertunangan? Dengan siapa? Gosip macam apa itu? Atau…
GREK.
Hiromu tiba-tiba bangkit dari kursinya.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar di luar?” Hiromu menarik tangan Valeriana tanpa menunggu jawaban darinya. Valeriana menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Hiromu saat mereka melewati kedua pria tadi. Setelah itu ia mengikuti saja kemana Hiromu membawanya pergi, ia tidak peduli. Yang ia pikirkan kini adalah… tangan Hiromu yang dingin membuat wajahnya semakin panas…
Hiromu terus membawanya sampai mereka tiba di sebuah taman kecil di dekat penginapan itu. Pohon-pohon yang besar membuat taman itu sangat teduh dan nyaman dengan air mancur kecil di tengah-tengahnya. Pemuda itu melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke sebuah kursi kayu panjang yang terletak di pinggir taman.
“Wah… aku baru tau ada tempat seperti ini disini.” Valeriana takjub melihat taman yang indah itu. Suasananya benar-benar menenangkan, membuatnya melupakan masalah tadi. Memang itulah tujuan Hiromu membawa gadis bermata Aquamarine itu ke taman tersebut, agar Valeriana tidak memikirkan kata ‘pertunangan’ itu lebih jauh. Ini belum saatnya Valeriana mengetahui hal itu. Tidak sampai perjanjian yang mengekangnya selesai. Bola mata birunya pun mengikuti pergerakan Valeriana yang berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya dengan senyuman menghiasi wajahnya yang masih merona tipis.
“Kau harus lebih sering memperhatikan sekelilingmu.” Hiromu berkata dengan suaranya yang sudah terekam di telinga Valeriana.
“Oh ya? Kalau begitu aku ingin bertanya padamu.” kata Valeriana yang mempunyai banyak pertanyaan di kepalanya terhadap pemuda itu.
“Apa yang kau lihat di luar jendela saat duduk di restoran tadi?”
Hiromu terdiam sesaat, kemudian ia menengadahkan kepalanya ke langit.
“Aku melihat langit. Warna langit begitu membuatku tenang.” Valeriana tertegun.
“Juga mengingatkanku pada seseorang.” Hiromu kembali menundukkan wajahnya, lalu mengangkatnya lagi dan memperhatikan percikan air yang ditimbulkan oleh air mancur di depannya.
“Ah… ha-haha…” tawa kecil Valeriana terdengar datar dan hambar. Hiromu menoleh padanya dan mendapati gadis itu sedang memandangi tangannya sendiri.
“Entah kenapa… aku merasa seperti pernah mengalami hal ini.” gumam Valeriana. Ia juga menoleh pada Hiromu dan menatapnya ragu-ragu. Gadis itu merasakan perasaan yang aneh saat memperhatikan tatapan Hiromu. Untuk ke sekian kalinya, ia merasa tertarik pada pemuda ini. Sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan olehnya. Oleh ingatannya. Apakah ia benar-benar tidak mengenal Hiromu? Apakah ia benar-benar baru kali itu bertemu dengan pemuda ini? Tapi seingatnya ia memang tidak pernah mengenal pemuda lain selain tangan kanan ayahnya, Damon, karena selama ini ia memang tidak pernah keluar dari area rumahnya gara-gara perlindungan dan penjagaan yang ketat.
Lalu kenapa saat ini ia mengalami déjà vu ketika Hiromu menjawab pertanyaannya tadi? Jawabannya mirip dengan jawaban seseorang tanpa nama dan tanpa wajah yang selalu muncul di mimpinya. Mimpinya yang selalu terlihat nyata. Mimpi yang menjadi sebab ia keluar dari rumah besar bagai istana itu untuk mencari jawaban. Jawaban dari keanehan yang mulai terjadi di sekelilingnya. Keanehan yang ia tahu pasti, selalu berusaha ditutupi dan disembunyikan oleh keluarganya dan seisi rumah. Apakah… pemuda yang dihadapannya ini adalah jawaban yang selama ini ia cari?
Valeriana memutar tubuhnya menghadap Hiromu dan menatapnya serius.
“Hei, Hiromu. Apa kau masih ingat namaku?” Valeriana bertanya pada pemuda yang mulai terlihat curiga itu.
“Sepertinya, ya… Valeriana kan?” jawab Hiromu yang berhati-hati menggunakan kata-katanya.
“Apa kau tahu nama lengkapku?” tanya gadis itu lagi.
“Hm… kau belum pernah mengatakannya padaku.” Hiromu berusaha menghindari tatapan mata Valeriana, tapi selalu gagal. Ia tidak bisa memalingkan wajahnya dari gadis itu sekarang.
“Aku memang belum pernah mengatakannya, tapi apa kau sudah tau siapa nama ku?”
“Aku tidak tahu.”
“Benarkah?” Valeriana benar-benar membuatnya terdesak. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa tiba-tiba ia jadi securiga ini padanya?
Hiromu pun bangkit dari kursi dan berjalan menuju air mancur di tengah taman, berusaha menghindari pertanyaan yang bisa menjebaknya itu. Namun Valeriana ikut berdiri dan menyusulnya, bahkan berjalan mendahuluinya kemudian berdiri diam di hadapannya.
“Dari tadi kau selalu berusaha mengalihkan perhatianku kan?” tanya gadis itu. Ternyata kepekaan gadis itu masih ada dalam dirinya.
“Aku tidak mengerti.” sahut Hiromu berkelit.
“Kalau begitu aku tanya sekali lagi. Kau mengenalku kan? Kau tahu siapa aku kan?” Valeriana kemudian melepas kacamatanya.
“Kau menyinggung soal kacamata ku saat pertama kali kita bertemu. Kau tau aku tidak terbiasa dengan kacamata. Kau pasti tau kalau aku tidak pernah memakai ini kan? Ayo jawab aku.” Valeriana menatap Hiromu dalam-dalam. Ia benar-benar menuntut sebuah jawaban kali ini. Warna matanya yang lembut benar-benar membuat Hiromu seakan terhipnotis. Ia rindu tatapan ini. Raut wajahnya yang kesal dan tidak sabaran. Gadis manja yang dulu selalu mendatanginya tiap hari. Bergerak sendiri, tangan Hiromu terangkat dan menyentuh pipi Valeriana yang segera kembali memerah. Wajahnya terasa panas ditangannya yang dingin.
Srek.
Suara daun yang tergesek oleh sebuah langkah kaki membuat Valeriana dan Hiromu menoleh pada sebuah sosok yang baru saja datang mendekati mereka. Seorang pemuda berambut perak dengan sebuah kantung kecil berisi perban di tangannya sedang memandang mereka berdua dengan ragu.
“Hiromu?”

TAMAT
*dihajar*
Ya, maksudnya…

-to be continued-


Tidak ada komentar: